Saya Tidak Suka Miso Rempah

Tahun 2024 kamu pernah mengajak saya ke sebuah warung di persimpangan jalan. Tempatnya sederhana. Sebuah warung tradisional yang menjual Miso Rempah, saat itu dilayani oleh seorang wanita paruh baya.

“Tempat kerja aku dekat sini,” katamu waktu itu.

Waktu itu tengah pesta demokrasi, Pemilu digaung-gaungkan. Kamu terlibat dalam kemenangan salah satu anggota dari salah satu partai biru.

Di perjalanan kamu sempat menunjuk sebuah bangunan. “Ini kantor kami.” 

Miso Rempah dengan kuah berwarna hitam pun tersaji. Itu bukan Miso Rempah pertamaku, sebelumnya aku sudah pernah makan dengan teman-teman organisasi.

Isinya tidak jauh berbeda dari miso pada umumnya: mie putih dan kuning, taburan bawang goreng, daun sop, dan suwiran ayam. Bedanya ada pada rempahnya. Kayu manis, cengkeh, dan lada bercampur dalam kuah yang panas.

Kita pun memakannya dengan campuran nasi hangat. Di tengah makan kamu meminta saya mengupas telur rebus. Sebenarnya saya tidak suka melakukan itu. Tapi waktu itu saya sangat menyukai kamu, jadi rasanya tidak ada yang tidak bisa saya lakukan.

Sayangnya telurnya tidak bagus. Saat dikupas, putih telurnya ikut terlepas. Kuningnya pecah dan berantakan di tangan saya, meninggalkan bau. Saya malu dan sejujurnya jijik sekali.

“Tidak apa-apa. Memang telurnya yang tidak bagus,” katamu. “Mungkin ini telur kemarin.”

Entah kamu benar-benar tahu atau hanya sedang mencoba menenangkan saya. Kamu kemudian menepuk kepala saya pelan. Hal kecil yang membuat saya sulit tidur malam itu.

Kamu juga sempat mengambilkan perkedel untuk ditambahkan ke dalam miso dan menawarkan ke saya. 

Namun saya menggeleng. Paduan Miso Rempah dan nasi hangat sudah cukup mengenyangkan. 

Aneh rasanya, betapa mudahnya saya menuliskan ingatan tentang semangkuk Miso Rempah itu. Bukan karena rasanya yang istimewa. Mungkin karena saya memakannya bersama kamu.

Dan sekarang kos saya tidak jauh dari tempat itu.

Kadang ketika saya terjebak macet di sore hari tepat di depan warungnya, saya seperti mendengar kembali percakapan kita. Rasanya membingungkan, rindu, juga memuakkan. 

Suatu hari di bulan puasa tahun 2026 saya belum juga menemukan menu untuk berbuka. Saat melintas, saya melihat warung Miso Rempah itu. 

Hari itu sepi, tidak seperti biasanya. Saya memarkir motor dan memesan satu bungkus Miso Rempah. 

Yang melayani bukan lagi wanita paruh baya itu, melainkan seorang pria sekitar tiga puluh tahunan. Di dekatnya ada seorang anak laki-laki kecil.

Saya juga membeli satu perkedel. Tapi tidak dengan telur rebus.

Entah kenapa rasanya terasa berbeda.

Apa karena minumnya bukan lagi teh es dingin?

Atau karena saya memakannya sendirian di kos?

Atau mungkin karena nasinya saya buat sendiri.

Lidah saya tidak lagi merasakan paduan rempah seperti dulu. Yang tersisa hanya kuah hitam yang hambar.

Dan di kepala saya kembali terdengar percakapan kita. Tentang janji kamu yang katanya ingin terus bersama dengan saya. 

Saya tidak tahu, kenapa miso ini terasa pedas sampai air mata saya mengucur beberapa kali. Padahal saya tidak ada memasukkan cabai di miso rempahnya. Saya baru sadar, saya tidak pernah menyukai makanan ini. 

Komentar

Postingan Populer