Perselingkuhan Pertama

_Oktober 2025.

Aku patah hati, namun ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya aku pernah mengalami hal ini, mungkin 2-3 kali? Jadi aku tidak asing dengan sakitnya, kecewanya, dan sedihnya. Bedanya mungkin aku patah hati karena cintaku yang bertepuk sebelah tangan? Kalau sekarang karena aku dikhianati oleh laki-laki yang statusnya adalah pacarku, dulu. Orang yang pernah aku sayang dan aku harapkan. Setidaknya di masa lalu aku pernah memiliki perasaan itu, meski kemarin, hari ini, dan selamanya perasaan itu menjadi: dia bukan orang yang pernah terlahir di dunia. Aku tidak berjumpa dengannya. Aku tidak pernah kenal, dan aku tidak pernah berbicara dengan dia. Sehingga aku tidak perlu repot-repot untuk melupakan apalagi membenci.

Perkenalan dan pendekatan kami sudah kuragukan di awal. Tapi bagaimana lagi, sebab aku lebih menuruti rasa penasaran dibanding cara berpikirku. 

Walaupun menjalani dengan keraguan, aku sadar ada benih cinta yang tumbuh didiriku. Perasaan hangat, bahagia, dan nyaman saat aku jumpa dengan dia. Perasaan tidak ingin berpisah setiap berjumpa, ingin bertemu bertemu kembali untuk setiap saatnya. Aku ingin memberikan apapun yang aku punya, supaya dia tahu kalau aku cinta dia.  Barangkali lirik lagu yang bunyinya: kan kuarungi tujuh laut samudra, kan kudaki pegunungan himalaya, apapun akan kulakukan tuk dirimu sayang, bisa menggambarkan perasaan itu. 

Meskipun demikian, setiap ingin tertidur bagian diriku berbisik untuk tidak mencintainya terlalu jauh, supaya tidak terjatuh suatu hari nanti. "Cukup 40 persen saja, sisanya cinta itu untuk dirimu." Begitulah bunyinya. Aku jadi takut  bergantung ke lelaki ini, aku takut bagaimana kalau yang sayang hanya aku? Bisikan bagian setengah dari diriku itu sangat kuat dan memengaruhiku bertindak di kemudian hari. 

Sampai pada akhirnya, laki-laki ini sedikit abai. Dari pandanganku, aku menyadari dia berubah. Sulit benar dihubungi, tidak membalas pesan, dan beberapa kali mengundur jadwal untuk berjumpa. Dia bilang sedang nonton, sakit, sedang di WC dan tidak bisa mengankat  telepon. Aku. Aku maklum dan percaya walaupun egoku mengatakan dia membual, namun masih menerima itu semuanya. Aku menepuk diriku, disadarkan oleh diriku lainnya  bahwa tidak ada yang bisa dipercaya selain diri sendiri. Jangan bergantung. Anggap aku  tidak pernah mengenal dia. 


Beberapa teman mengomentari dari cara kami menjalin hubungan. Ada yang mengatakan.

"Apa dia bosan?" 
"Apa dia punya pacar lain?"
"Apa dia memang begitu?"
"Emang ada laki-laki yang ga mau telponan sama perempuannya?"
"Kok bisa  ga ada jumpa sih?"
"Ellya bahagia sama dia? Dia baik?" 

Aku bilang dia orang yang baik. Dia tidak pernah marah, dia tidak meninggikan suaranya. Dia tidak memaki, dan tidak dominan. Dia baik, tuturannya sangat sopan dan lembut. Saat mendengar itu, teman-temanku kemudian diam, mungkin lega atau tidak ingin lagi mendebat kebodohanku. Aku menyadari semua kekhawatiran itu sebenarnya, sangat memikirkan, dan membuat aku bertanya ke dia.

"Kau sayang aku gak?" aku bertanya begitu paling sedikit sebulan sekali. Dia selalu membalas, dia sangat menyayangiku. Dia minta aku jangan meninggalkan dia. Aku mengiyakan, walaupun bagian otakku memikirkan hal lainnya. Aku harus mengakhiri semua hubungan ini.

.

"Aku harus putus sama dia, tapi gimana caranya?" aku mempertanyakan ini ke teman-temanku. Respon mereka yang pertama kaget lalu yang kedua bertanya kenapa. Kaget sebab aku selalu menghormati dia disetiap ceritaku yang kemudian ingin mengakhiri ini semua secara tiba-tiba. Tidak ada alasan, aku cuman merasa harus putus, itu pilihan yang tepat  berdasarkan fellingku. Namun apa alasannya?

Ada yang bilang langsung katakan saja keinginanku, namun aku takut menyesal kemudian hari, ada yang bilang jalani aja dulu sampai aku yang diputuskan. Baiklah, aku menunggu aku yang diputuskan saja. 

Tapi ternyata tidak ada yang berubah. Dia masih sama, sulit dihubungi,  sulit membalas pesan, dan enggan berjumpa sepertinya. Dan aku, aku tidak mengatakan aku orang baik yang berkeinginan memperbaiki semuanya itu, tidak. Sepertinya egoku cukup tinggi untuk berhubungan. Pacaran ternyata hal yang begitu mewah. Pasalnya berteman saja aku tidak becus kenapa bisa memiliki pacar?

Aku kemudian memperlakukan dia bagaimana dia melihatku. Aku sadar, aku tidak ada lagi rasa kasih dan sayang. Aku hanya menghormatinya sebagai manusia yang menjalin pacaran. Walaupun kadang-kadang masih ada pesan yang kuterima, bahwa dia menyayangiku. Lalu aku kemudian membalas, aku menyayanginya. Kadang aku juga mengirim bahwa aku sayang dia, dan dia balas love you more! Kami juga berjumpa walaupun sedikit pertemuan, aku menggenggam tangannya dan mengatakan semua baik-baik saja atas hal yang dia khawatirkan. Aku juga masih memastikan bertanya, apakah masih sayang aku? dia bilang masih, dan itu sebenarnya cukup membebankan. Aku benar-benar menunggu kalau dia tidak lagi sayang denganku, maka aku bisa mengakhiri semuanya tanpa rasa bersalah. 

Hingga suatu ketika aku merasa tidak boleh terus-terusan seperti ini. Aku mengirim pesan pembuka, bunyinya masih sama: abang sayang aku?

sayaangg, kenapa?
- aku cuma mau bilang, karena kita jarang bertemu, jarang komunikasi aku gatau gimana hubungan kita lagi. kalau suatu hari nanti perasaanmu berkurang sedikit atau banyaknya sampaikan aja. aku menerimanya kok. aku gamau hubungan ini cuma dianggap angin lalu, yang "jalani aja dulu"
- baiklah sayang.

Aku mengatakan hal jujur. Aku minta dia untuk jujur saja atas perasaannya, sebab aku bisa menerima tanpa harus sakit hati. Aku sudah terima kalau kami akan putus. Sepertinya aku tidak sulit move on, sebab kasih dan sayang pada dia sudah tidak ada lagi.

Hingga keesokan malamnya tepat setelah aku mengirim pesan tersebut, aku bermain instagram. Algoritma mengantarkanku pada rekomendasi pertemanan, profil yang tidak asing. Dan saat aku klik itu adalah akun milik perempuan, dengan foto profil, feed, sorotan mencantumkan laki-laki itu. Pacarku (dulunya), yang ingin kuputuskan namun aku masih menghargai hak asasi manusianya masih kuhargai dan kubangggakan,  dia pengkhianat. Kuhitung-hitung, mereka berpacaran sejak April 2025. Saat kami masih jalan, keluar, makan bersama, saling melontarkan kalimat sayang. Dia memintaku untuk tidak meninggalkannya, dan aku kemudian berjanji untuk itu.

Kenapa sakit sekali? Bukannya aku sudah tidak sayang lagi? 

Rasanya seperti menggali lubang dalam dan besar berdua. Kita berdua berharap lubang itu memberi rasa aman dan kenyamanan. Tapi ternyata kau lebih memilih mengubur aku hidup-hidup di dalamnya. Namun aku tidak mati, tapi karena di dalam lubang itu gelap dan dalam, aku sangat  sakit dan kewalahan. Aku harus bagaimana supaya bisa keluar dari lubang ini.. 

Dari mana semuanya dimulai. Sejak sebagian diriku yang berbisik untuk tidak mencintainya begitu dalam, atau sejak aku yang mengikuti permainannya untuk tidak mengirim pesan? Sejak kapan, apa sebabnya. Apa karena aku yang takut bergantung? 

Tapi tidak apa-apa, aku mendapat pengalaman baru. Untuk tidak mudah percaya, untuk lebih percaya ke diri sendiri atas hal yang aku suka ataupun tidak. Aku hanya menyayangkan, diriku yang sangat kucinta  dan berharga ini harus dikhianati. Apa aku pantas mendapatkannya?

Setelah mengetahui itu, aku menangkap layar dan mengirimkan ke dia. Mengirimkan fuck. Aku memblokirnya segera, mengakhiri semua pertemanan kami di sosial media, dia tidak menjelaskan apa-apa dan aku tidak membutuhkannya. Yang aku tahu dia tidak baik. Dia tidak tepat dan tidak pantas untuk dipertahankan.

Pesanku, jangan berselingkuh atau berkhianat. Kau mungkin tidak tahu bagaimana untuk memproses semuanya. Rasa sakit dan panasnya dada ini, tremornya tanganku saat memegang hp. Tidak tertidur selama 3 malam dan tidak merasakan apa itu lapar. Aku menjadi zombie yang juga harus segera menghubungi dosenku walaupun ia enggan berjumpa denganku sepertinya.

Aku bahagia pada akhirnya kita bisa mengakhiri hubungan ini. Walaupun dengan cara yang sangat kusayangkan sekali.

Ngomong-ngomong, setelah kejadian itu, teman dekatku mengirim pesan ke akun perempuan itu. Tentu ini tanpa aku ketahui, ia mengirim tanpa izin dan kesepakatan. Temanku menjelaskan, aku mengasihani dia bahwa suatu hari nanti dia kemungkinan mengalami hal yang kurasakan. Perempuan itu berterima kasih, dan dia menyebut namaku saat menduga siapa pacar dari laki-laki ini. Ellya yang pernah dihadiahi mushaf quran?, itu benar. Dia mengenalku, dia mengetahui aku. Dia menyadari bahwa kami punya hubungan, namun kenapa dia tidak menyadarkan laki-laki ini untuk putus dulu..

Terlalu banyak hal mengganjal dan ingin dipertanyakan. Namun aku mencoba untuk tidak mengenal mereka. Aku harus tetap bergerak walau dengan merangkak.

Komentar