Memutuskan Konseling

Juni 2025 barangkali menjadi waktu sulit dilupakan. Aku mencoba hal pertama kali yang tidak pernah kusangka di waktu sebelumnya, bahwa suatu hari aku akan menjumpai psikiater dan psikolog.


Ini bukanlah aib atau rasa lemah. Ia seperti sakit pada umumnya, memerlukan ahli untuk menguraikan benang merah yang dihadapi selama ini. Aku perlu profesional untuk mengerem kegelisahan yang selama ini menimpa. Dan tentu mengganggu aktivitasku. 

Hal yang mendorong diriku untuk yakin melakukannya adalah seperti ini. Setiap pagi, seminggu berturut-turut aku selalu menangis tanpa sebab. Dada sesak, rasa takut parah, jari tremor saat akan menulis, dan tidak ingin melakukan apapun. 

Dalam waktu itu, beberapa pekerjaan menumpuk, harapan orang-orang melimpah, kepercayaan diri di bawah, serta beberapa pertanyaan yang membuat aku merapal mantra: Tuhan, kapan waktunya tiba bahwa aku akan mati. Tuhan, aku tidak ingin pergi sendirian, tolong jemput aku dengan cara apapun.

Setiap hari, mantra itu kusebut sebelum dan saat bangun dari tidur. Sialnya, saat aku tidur pun rasanya sangat lelah. Lelah sekali. Malam terkutuk, pagi mengutuk.

Hingga pada akhirnya langkah kaki ini mengantar pada sebuah bangunan, mengambil kertas antrian di depan poli jiwa dan menunggu namaku dipanggil. 

Di dalam ruangan, aku mempertanyakan semuanya: kenapa aku di sini, kurasa setiap orang merasa hal yang sama. Kupikir hidup memanglah berat, kenapa aku harus pergi kemari. Lemah sekali, tidak bisa menyelesaikan ini semuanya. Kurasa, aku akan merepotkan orang ini nantinya. Apa ini tidak berlebihan? 

"Dokter, aku gapapa kok. Aku stabil," kataku pada lelaki spesialis jiwa itu.

"Oh ya, syukurlah. Lalu apa yang mendorongmu kemari?" Dia bertanya. Tak kusangka, aku menangis sejadi-jadinya. Jujur, aku tidak tahu apa yang membuat aku seperti ini.

Siapa yang punya alasan bahwa setiap paginya seseorang akan menangis, jantung yang berdetak kencang, tidak ingin jumpa dengan siapapun, marah besar karena hal kecil, dan tertidur berlebihan dari siang ke pagi hari. 

"Dokter, aku kenapa?" 

Aku kemudian dipandu untuk bercerita. Entah itu terdengar logis atau tidak. Tapi dia mengangguk pelan. Aku masih menangis, dan kadang-kadang menyeka ingus yang keluar tanpa izin.

Dokter beberapa kali mengetik di depan komputernya. Lalu melihatku.

Dia bilang, "Ellya tingkat cemasmu tidak sama dengan orang lain. Kamu terlalu banyak khawatir."

"Maksudnya?"

Dokter memberi analogi supaya aku mudah memahami penjelasannya. Aa ya, belakangan aku merasa sulit diajak bicara, mudah lupa, dan tidak bisa konsentrasi pada suatu hal, dan ia memaklumkan hal itu. 

"Misalnya ada 4 orang, kamu salah satu di antaranya. Orang-orang memiliki tingkat cemas 2,3,4. Namun Ellya 8."

"Bagaimana supaya aku hanya memiliki cemas nilai 1?"

Dokter tertawa, ia bilang itu bisa namun tidak instan. "Perlu waktu 3-4 bulan, dan itu harus dilatih." Dia kemudian bertanya banyak hal, dan sulit kujawab beberapanya. Rasanya sesak sekali.

"Apa kamu pernah kehilangan orang yang berharga?" 

Aku sedang sendirian, namun aku sepertinya tidak pernah kehilangan. Namun kupikir-pikir, aku tidak lagi dengan siapa-siapa. "Engga dok, aku ga pernah kehilangan siapapun," kujawab.

Dokter mengangguk, dia bilang perasaanku ini sering dialami oleh orang-orang yang kehilangan orang berharganya. Aku pun tidak tahu.

"Apa yang sedang dipikirkan belakangan ini?"

"Aku ragu kalau aku berpikir dok hehhe. Kayanya aku sama sekali ga mikirin apa-apa." Kami sama-sama diam.

"Sebenarnya aku sering berpikir hal-hal yang engga nyata."

"Misalnya?" dia nanya.

"Aku takut ada orang yang marah dan nyerang aku, aku khawatir gimana kalau misalnya bakalan ada kebakaran besar.. Aku setiap hari selalu menyiapkan solusi untuk itu, tapi kayanya percuma," aku pelan-pelan bercerita jujur yang tampak sedang mengawang.

"Untuk apa menyiapkan solusinya Ellya. Kan masalahnya ga ada," ia senyum hangat.

Banyak yang kami ceritakan. Ia lalu meresepkan sebuah obat yang jumlahnya tujuh butir. Katanya itu untuk sarafku. Ia minta aku datang satu pekan lagi.

.

Sabtu harusnya kami berjumpa. Namun aku bandel dan berencana tidak ingin datang. Tapi dalam beberapa hari berikutnya, rasa cemas biadab itu datang kembali. 

Aku diam-diam menangis di bawah meja kerja. Di kamar aku mengacak segalanya. Marah tanpa ada penyebab yang masuk akal, dan hanya ingin tertidur. 

"Dokter, aku masih ngerasain hal yang sama," aku cerita begitu.

"Dok, aku rutin kok minum obatnya. Tapi aku masih suka nangis. Tapi kayanya aku tau ini alasannya kenapa," aduku.

"Oh ya kenapa?" Ia tersenyum.

"Ini sepertinya soal harga diri."

Kami kemudian sempat terdiam beberapa lama. Ia masih tersenyum sambil mengangguk. Ia berbicara panjang yang sangat sesuai dengan apa yang kurasakan selama ini. Aku kagum, ternyata sekolah yang tinggi itu bisa mengetahui segala yang kualami, kurasakan, dan kebiasaan burukku.

Hal yang masih belum kupahami adalah, perasaan yang menimpaku selama ini tuturnya tidak terlepas dari masa kecil. Barangkali core memory itu ternyata belum bisa dimaafkan, membuat tubuh membuat suatu protes seperti saat ini.

"Menurutku itu gak ada kaitannya," kataku berlagak protes. 

"Saling berkesinambungan Ellya. Trauma yang menimpa beberapa orang, membuat mereka kehilangan separuh dirinya, sehingga ada tuntutan untuk tumbuh sempurna dan tidak ingin membuat orang-orang di sekelilingnya merasa kecewa. Tapi ternyata saat itu belum bisa dipenuhi, beberapanya mengalami seperti ini. Tidak semuanya, tapi beberapa."

"Kupelajari pelan-pelan dok." Ia kembali tersenyum. 

Lagi-lagi ia meresepkan obat untuk sarafku lagi sebanyak tujuh butir. Aku senang hari itu sebab satu persatu terkuak. "Sampai jupa satu minggu lagi ya, pengobatan kita berkelanjutan hingga 3 bulan, jangan lupa PR nya."

Selama minum obat, aku merasakan perubahan nyata. Tidurku lebih baik, perasaanku lebih tenang. Tidak ada drama setiap pagi untuk berdoa meninggal atau menangis. Aku menjalani hari dengan baik. 

Sampai pada suatu hari, jantungku berdetak lebih kuat lagi. Aku kembali menangis lepas. Tanpa ada sebab apa-apa. Perasaan yang sama seperti berada di ketinggian kemudian terjatuh, padahal badanku tenang di atas kursi sambil membaca buku tentang merapikan ruangan. Suara dengingan beberapa kali juga terdengar. Dan itu terjadi beberapa hari berikutnya. 

.

"Halo Ellya," sapa seorang perempuan.

Aku memutuskan datang konseling ke psikolog. Barangkali aku tidak hanya butuh  obat, namun hal-hal lainnya yang belum aku ketahui. 

Ia kakak perempuan yang ramah, suaranya riang namun membekas. Ia mendengarkan dengan seksama, menyodorkan tisu, dan mencatat di hadapanku. Ia banyak diam, mengangguk, dan menjelaskan beberapa hal. Dia juga membantuku untuk mengenali risiko, prioritas, dan hal baik buruk yang sebelumnya tampak abstrak di depanku. 

Ia juga tugaskan: melarangku melakukan beberapa hal, mewajibkanku membuat beberapa poin. 

"Kita jumpa 3 minggu lagi ya. Kalau emang ini tidak bisa, aku menyarankan untuk kembali lagi menjumpai dokter. Karena ini cukup mengganggu fisik," katanya.

.

Setelah menjalani pertemuan-pertemuan tersebut, aku masih belum kembali seperti diriku dulu kupikir. Semangatku belum sama, namun kuyakin ia akan kembali serupa. Namun aku tidak se-putus asa seperti sebelumnya. Setidaknya ada cercah alasan mengapa aku harus bangun pagi setiap hari. Ada alasan kenapa aku harus menulis setiap harinya. 

Aku senang setelah melakukan konseling. Sebab hal yang kujalani selama ini memanglah ada penjelasan ilmiah, tidak seperti yang kutakutkan: bahwa aku membuat-buatnya. Tidak. Aku hanya membutuhkan profesional, dan keputusan tepat yang sangat kubanggakan. 

Datanglah konseling jika itu perlu, pesanku. Mereka sangat membantu untuk menguraikan benang kusut itu. 

Komentar