Ratu Kapal

 Yang paling sering kudengar dari orang tentang diriku adalah sebutan sesies langka.

Katanya, tak banyak orang yang sepertiku mengesalkan, kadang memuakkan, tapi entah kenapa mereka tetap menoleransi. Bahkan sesekali dirindukan, mungkin karena aku bisa membuat suasana menjadi ramai.

Tapi ya, inilah aku.

Namaku Ellya. Orang-orang yang mengenalku dari kecil memanggilku Lia. Di rumah, mamak memanggilku Ratu.

Sementara beberapa saudara memberiku julukan Kapal.

Aku sendiri ga pernah benar-benar tahu kenapa mereka memanggilku begitu. Apa maksudnya? Kenapa julukan itu melekat padaku? Tapi aku sama sekali ga keberatan.

Kadang aku membayangkannya begini: mungkin aku memang seperti kapal yang terus berlayar, menjelajahi lautan, bergerak tanpa benar-benar tahu akan berlabuh di mana.

Bukankah hidup memang begitu?

Kita berjalan tanpa peta yang pasti, hanya berharap suatu hari sampai pada sesuatu.

Aku suka membaca. Sangat suka, bahkan.

Sayangnya, akhir-akhir ini minat bacaku menurun drastis. Mungkin aku sedang mengalami reading slump, kondisi ketika seseorang kehilangan minat membaca dan sulit berkonsentrasi pada buku.

Saat menulis ini, aku baru saja menyelesaikan sebuah novel berjudul Jakarta Sebelum Pagi karya Zee. Ceritanya menarik. Dari buku itu aku tidak hanya mendapat hiburan, tapi juga menemukan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan.

Misalnya: ketika minum teh panas, sebaiknya jangan meninggalkan sendok di dalam gelas. Sendok dapat menghantarkan panas dengan cepat, ia adalah konduktor, sehingga panas dari teh akan lebih cepat berpindah dan membuat minumanmu dingin.

Hal-hal kecil seperti itu entah kenapa selalu membuatku senang.

Selain membaca, aku juga suka menulis.

Kalau ada yang bilang tulisanku jelek, ya mungkin itu memang benar. Tapi anehnya, walaupun begitu aku tetap ingin menulis.

Padahal pernah suatu malam aku mengutuk diriku sendiri: aku tidak akan pernah menulis lagi.

Kupikir saat itu Tuhan menegurku. Setelahnya, aku justru kesulitan menulis apa pun, termasuk skripsi dan laporan lapangan.

Entah itu teguran, atau mungkin aku hanya mengalami writer’s block: kondisi saat seseorang buntu, kehabisan ide, dan tidak mampu menyambung paragraf demi paragraf.

Penulis besar seperti J.K. Rowling atau Ratih Kumala, dari beberapa sumber yang kubaca, pernah mengalami hal serupa.

Penyebabnya bisa bermacam-macam: tekanan, ekspektasi dari diri sendiri, atau ketakutan terhadap penilaian orang lain.

Namun ada juga penulis yang mengatakan bahwa writer’s block sebenarnya tidak ada. Itu hanya alasan yang dibesar-besarkan.

Katanya, kebuntuan ga akan terjadi kalau penulis terus mengisi “bensin” dengan membaca, berani menyelesaikan paragraf sampahnya, dan tidak terlalu takut pada kritik.

Mungkin mereka ada benarnya.

Karena itu aku membuat laman ini.

Bukan untuk membuktikan kalau aku bisa menulis, jelas belum. Tapi untuk melawan pikiranku sendiri yang sering berbisik kalau aku ga mampu menulis.

Barangkali aku belum cukup terlatih. Dan barangkali aku perlu lebih banyak berproses. Inilah salah satu proses itu.

Ini tulisanku.

Komentar

Postingan Populer