Legam yang Melegakan

Aku ingin memulai dari segelas ice americano, yang kerap kuteguk saat pening melanda.

Cairan hitam pahit itu bukan sekadar minuman. Ia obat penenang yang entah bagaimana terasa membahagiakan.

Semua bermula dari sebuah kafe di sudut Panam. Saat itu aku duduk berjam-jam di depan laptop, membuka dokumen skripsi yang rasanya tak pernah benar-benar selesai. Hari-hariku dihabiskan di kafe, mengejar tenggat, sambil memesan minuman pengusir kantuk.

Aku mencoba beberapa rasa, mulai dari sanger, kopi susu, aren, sampai akhirnya tiba pada americano yang kemudian menjadi pilihanku di hari-hari berikutnya.

Selain lebih murah dari menu kopi lain, minuman ini juga dikenal lebih sederhana, tanpa gula, tanpa banyak campuran. Ia hanya berkomposisi dari kopi dan air.

Sejak itu, setiap kali mengunjungi kafe-kafe lain di Pekanbaru, ice americano selalu menjadi pesananku.

Padahal, pertama kali menyeruputnya, rasanya sangat pahit. Pekat, menusuk, bahkan bau. Aku pun berpikir, kenapa ada orang yang sengaja meracik minuman seperti ini?

Namun, rasa pahit itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang bersahabat.

Suatu waktu aku sempat berniat berhenti minum kopi. Ga ada alasan besar, ingin lebih hemat, seperti tokoh utama dalam film Home Sweet Loan.

Tapi setelah beberapanya, terasa ada yang berbeda. Cemas lebih sulit reda. Sedih terasa lebih lama tinggal.

Entah karena aku tidak pandai mengelola emosi, atau hanya karena aku belum minum kopi.

Hari itu aku akhirnya berjalan keluar, mencari kafe terdekat, lalu memesan ice americano kepada mbak kasir.

“Suka banget ya Americano, padahal pahit banget,” katanya. Mungkin usianya sekitar dua puluh tiga.

Aku hanya tertawa. Kubilang saja kalau minuman ini enak, dan aku memang menyukainya.

Sedih dan cemas itu sebenarnya masih ada. Tapi setidaknya aku merasa sedikit lebih aman, seolah ada teman yang duduk menemaniku.

Pernah juga di suatu pagi aku meneguk ice americano, dan tiba-tiba semuanya terasa lebih ringan. Teguran orang lain lewat begitu saja. Cacian tidak terlalu mengganggu.

Seolah-olah segelas americano membuatku sedikit lebih stoik, menerima apa yang datang tanpa terlalu lama tenggelam di dalamnya.

Barangkali memang tidak ada yang benar-benar berubah.

Tapi bagiku, ada satu hal yang selalu terasa sama, bahwa gak ada yang lebih menenangkan daripada pelukan hangat dari segelas americano yang dingin.

Komentar

Postingan Populer