Sesi

Dia duduk tenang. Tenang sekali. Dia mendengarkan tapi juga bekerja. Dia membantu. Dia menginginkan. Dia memukul. Kemudian memuji, dia bilang aku cerdas. Aku.. Aku tidak jadi kesal. Aku pun tenang, mungkin karena dia.

Tapi dia tanya. Ada orang lain. Aku bilang enggak. Kemudian dia bertanya kenapa. Kujawab balik kenapa. Kenapa harus ada. Tidak semuanya menurutku, harus paham dan tahu apa yang sudah terjadi.

Besoknya aku tidak lagi jumpa dengan dia. Setelah mantra itu, kami berpisah untuk satu minggu. "Kita berjumpa seminggu setelah ini ya. Hari Sabtu, saya tunggu kamu."

Selama tidak berjumpa. Organku melayang. Napasku tersengal. Jantungku kurasa melorot sampai lutut. Dia berdetak membuat aku melirih bahwa ini adalah hari terakhirku. Kadang aku menyapa. Sampai kapan kau bekerja. Aku juga melipir. Mengetuk hidung. Memberi dia galian silit. Masih berfungsi, ia bekerja seperti normalnya.

Tapi aku butuh sosok dia. Tidak hanya mantranya.

Dan setelah perjumpaan itu, dia nampak lebih berseri. Jendelanya dibuka, disilakan sinar pagi bertamu.

Yang menggantung disudahi. Yang kecebur dialiri. Rambutnya dibasah, lantainya dicuci.

Makannya berganti dan lebih berwarna. Sedikit, tapi cukup daripada banyak namun bikin gila.

Tulat akan menjadi waktu sepekan mereka untuk berjumpa. Ia bersiap diri mendengar mantra

.

Lebih dari satu pekan ternyata kita baru berjumpa. Molor sekali. Bukan Sabtu namun Selasa.

"Maaf, harusnya aku datang di Sabtu kemarin," kataku. Kau lipat tangan di dada. Senyum tipis dan menggeleng, "gapapa." Kupikir kau bakal bertanya, apa yang terjadi. Kenapa memutuskan hari ini. Apa yang membawaku akhirnya memutuskan untuk datang menjumpaimu. Kupikir kau akan menungggu. Ternyata tidak sama sekali.

Aku banyak bicara, seperti biasa. Kau banyak mendengar. Mengangguk, dan sesekali tertawa. Lalu bertanya. Dan beberapa kali menjawab pertanyaanku. Tidak lama.

"Iya Ellya. Kalau begitu sampai jumpa delapan hari lagi ya."

Menurutku, kemarin akan menjadi hari perjumpaan terakhir kita, pikiranku saat ini. Tidak akan ada lagi hari berikutnya. Kecuali aku ingin.

.

Namun jantung kembali berdetak secara jor-jorran. Ia lagi-lagi melorot, air asin ikut andil peran dalam drama tak berkesudahan.

Sepekan setelahnya, kembali datang dalam sesi. Pada orang yang tidak sama.

"Hai, siapa namanya?"

Aku kembali bercerita. Hal serupa pada orang yang berbeda. Mengulang, mengulik, dan sangat menyakitkan. "Tidak apa-apa, aku sama sepertimu. Kita sama," hiburmu.




Komentar

Postingan Populer