Agustus 2025 Adalah Protes Besar
Hari-hari terakhir di Agustus 2025 terasa berat dikenang. Di usia sudah menginjak 23 tahun, aku menyaksikan negeri ini berada dalam pusaran peristiwa pelik yang sulit untuk dilupakan.
Menjadi panggung besar kemarahan, protes, dan kekecewaan rakyat pada penguasa yang semakin jauh dari harusnya.
Kesombongan DPR
DPR, lembaga yang seharusnya mengawasi kinerja pemerintah sekaligus pembuat undang-undang, berubah menjadi lembaga yang dihujat.
Publik nuntut DPR dibubarkan, meskipun mustahil dilakukan kata beberapa orang, sebab ada konstitusi yang harus diubah, dan kewenangan itu hanya ada di MPR. Mulanya, para anggota yang ada di dalamnya beberapa kali menyampaikan pernyataan yang tidak menyenangkan. Seperti memojokkan rakyat, mengatakan tolol, berjoget suka ria di dalam kantor yang penuh kemegahan.
Mereka mendapat kenaikan gaji dan tunjangan hingga ratusan juta perbulan, angka yang sangat besar jika dibanding dengan DPR DPR di seluruh dunia. Sangat tidak adil kalau disanding dengan wajah rakyat saat ini. Pengangguran tinggi, pungli di mana-mana, kesehatan yang merosot tajam.
Tapi tapi, yang penting dari semua itu bukan soal bisa atau enggaknya lembaga ini bubar, namun simbolik perlawanan yang muak akan culas, korupsi, dan sifat tak tau malunya.
Nama Uya Kuya, Eko Patrio, dan Sahroni terseret. Mereka adalah anggota DPR, contoh nyata wajah yang dianggap lebih sibuk memperlihatkan kelucuan dibanding memperjuangkan kepentingan rakyat. Pada akhirnya, ketiga manusia ini akhirnya di nonaktifkan dari partainya, tidak tahu untuk selamanya atau sementara saja.
Ini sudah waktunya untuk kalian memanen yang telah ditanam.
Namanya Affan Kurniawan
Di tengah pikuk aksi demonstrasi di Jakarta Pusat, pemuda 21 tahun yang namanya Affan Kurniawan, driver ojol, lewat naik motor sambil membawa pesanan makanan, pada 29 Agustus 2025.
Siapa yang akan tahu bahwa hari itu perjalanan terakhirnya. Mobil brimob melaju menabraknya hingga meninggal. Ia tidak cukup ditabrak. Tapi dilindas, dilindas menggunakan mobil yang dibelinya dengan pajak rakyat.
Bukannya berhenti bertanggung jawab atau barangkali menengok sebentar, mobil yang dikendarai tujuh polisi itu malah tancap gas. Meninggalkan Affan tergeletak dengan susulan makian dari masyarakat.
Rasanya seperti pelecehan. Kucing yang tertabrak kendaraan pun dianjurkan untuk dikubur dengan layak, namun nyawa manusia diperlakukan seperti sampah.
Perginya Affan menjadi duka mendalam. Keluarganya kehilangan, begitu juga dengan masyarakat ini.
Polisi dalam hal ini menjadi simbol biadabnya aparat yang lupa tugasnya, aparat yang seharusnya menjaga tetapi justru merenggut nyawa.
Gak heran bila Media Tempo mengumpamakan kondisi ini sebagai bisul yang pecah. Kocar-kacir dan penuh darah.
Protes pun terus menjadi, merembet ke daerah-daerah. Di Pekanbaru, massa sempat menduduki kantor Polda Riau, syukurnya tidak ricuh, sementara di Makassar, kantor DPRD dibakar hingga hangus, ada dua korban jiwa yang menambah panjang daftar duka.
Dalam situasi ini, artis yang kini duduk di kursi DPR hanya bisa menanggapi dengan video klarifikasi, ada yang minta maaf karena berjoget, ada pula yang minta maaf karena salah bicara.
Sementara itu, rumah Sahroni dijajah, kemudian menyusul rumah Eko Patrio, Uya Kuya. Pertanyaan pun menggantung, siapa berikutnya?
Penangkapan Khariq Anhar
Polisi lagi-lagi 'bekerja keras'. Instansi sialan ini nangkap mahasiswa Universitas Riau, Khariq Anhar.
Aku mengenalnya, meski tidak terlalu dekat. Kami satu angkatan di kampus. Dia anak yang selalu vokal, penuh keberanian, dan tak pernah gentar untuk mengkritik apa yang dianggapnya salah. Dia gesit dan agak bandel.
Khariq pernah bicara lantang menolak kenaikan UKT, mengkritik lambannya pencairan beasiswa daerah di Riau, dan sering mengajak mahasiswa berkumpul untuk membaca buku di tepi danau kampus lewat komunitas literasi Kalistranya.
Keberaniannya membuat dia berhadapan langsung dengan represi aparat. Di Jakarta, ia ditangkap tanpa surat resmi.
Membayangkannya saja membuat dadaku sesak. Aku gak bisa membayangkan bagaimana mentalnya ketika harus menghadapi kekerasan semacam itu sendirian. Terbaru, dari postingan LBH Pekanbaru aku membaca sebuah surat yang dia tuliskan untuk keluarganya. Berbunyi, bapak, mbak. Aku gapapa. Besok aku pulang masakin candil ya? Aku kangen masakan rumah.
Andreas, seorang penulis sekaligus pengamat HAM, sempat menghubungiku untuk bertanya soal Khariq. Ia berniat menjumpainya di kantor polisi, namun ia sendiri kewalahan karena transportasi umum beberapanya masih lumpuh, sedangkan situasi di Jakarta masih jauh dari kata aman. Demonstrasi tidak bisa ditebak kapan mereda.
Di sisi lain, kekhawatiran juga datang dari Nia, wartawan nasional di Jakarta sekaligus kawan dekatku. Dia bilang takut untuk keluar rumah.
Ketakutannya wajar, mungkin karena statusnya sebagai wartawan, atau mungkin karena ia perempuan, atau mungkin keduanya. Wartawan perempuan memang berada di posisi paling rentan sekarang ini.
Peliputan media menjadi sangat terbatas. Stasiun televisi swasta minim suara, Informasi yang seharusnya berisik dan banyak diomongin orang, justru hening. Semua ini membuat situasi semakin menyesakkan. Aplikasi Tiktok tidak bisa lagi buat siaran langsung, padahal politikus bajingan itu banyak mengantongi suara kemenangan dari sana.
.
Belum genap sebulan kita menyanyikan Indonesia Raya di hari kemerdekaan kemarin. Saat ini masyarakat justru dikasih tontonan perang kecil rakyat versus aparat negara.
Pak Prabowo Subianto, hentikan semuanya. Jika memang sudah tidak sanggup, akuilah dan lepaskan kursi itu. Jangan lagi memanjakan para koruptor dengan memberi gelar-gelar penghargaan, jangan terus memperkaya menteri-menteri, jangan hanya berpihak pada orang-orang kaya. Cukup sudah.
Minta maaflah ke rakyat dan mundurlah. Karena seorang mantan pelanggar HAM pun tidak akan pernah pantas menjadi Presiden Indonesia.
Pak Listyo Sigit Prabowo, demi kebaikan institusi, serahkan posisimu kepada orang yang lebih pantas. Kelambanan dan kelalaianmu mengambil keputusan memakan terlalu banyak korban jiwa. Di luar sana, ada banyak keluarga yang merindukan kepulangan orang-orang yang mereka cintai, sahabat, suami, ibu, dan anak, yang menjadi korban kebrutalan oknum anggotamu.
Pak Gibran Rakabuming Raka. Berhenti mencuci tangan, kecuranganmu yang tidak sabar memimpin negara ini mengakibatkan semua ini terjadi. Mundur, dan jalani hobimu yang sebenarnya.
Ellya
Agustus 2025.
Komentar
Posting Komentar