Menimbang Resign

Suatu siang aku mengundang seorang rekan kerja berjumpa disuatu kafe kopi franchise. Aku akan menyatakan untuk undur diri dari pekerjaan. Alasan yang umum untuk diucapkan oleh siapapun, apalagi pekerja masa kini.


Sumber gambar: Vecteezy.com

Saat ia datang aku merasa gugup. Namun aku harus jujur daripada terus terbelenggu perasaan bersalah ini. Ia bukan bos, namun orang yang merekomendasikan aku untuk bergabung dengannya di kantor. 

Ia menyapa dan kami duduk berhadapan. Pembicaraan pun langsung tepat  sasaran, tidak berbasa-basi bertanya kabar apalagi membincangkan cuaca yang cerah. "Bagaimana selama ini?" tanya dia. Menurutku pertanyaan ini mengarah, bagaimana aku selama di kantor. Kendala apa yang kurasakan.

"Aku sulit beradaptasi, aku ingin belajar namun menurutku kantor ga memberi fasilitas itu. Tugas-tugas selesai, tapi sebenarnya aku benar-benar ga mengambil pelajaran dari yang kukerjakan."

"Menurutmu aku teman diskusi yang baik ga?" ia bertanya begitu. Aku mengangguk, itu benar-benar jujur. Tapi tetap saja diskusi ini menurutku terbatas. Sebab ia banyak kesibukan pekerjaan. Lagipula memfasilitasi SDM belajar seperti diskusi bulanan, rapat mingguan bukan wewenangnya.

Dia mengangguk sepakat. Dia juga menyayangkan kantor tempat kami bekerja ini tidak menyediakan hal tersebut. Aku lega sebab ini bukan hanya perasaanku saja. 

"Apa lagi?"

"Aku keberatan untuk inisiatif hehehe." 

Barangkali generasi z sekarang dipandang lebih sebab memiliki kreativitas dan inisiatif yang berlebih. Namun aku menolak hal itu sebab aku tidak bekerja sebagai tim kreatif. Memiliki plan dan target adalah impian pekerjaanku. Sebab itu aku harus memiliki tim yang baik, komunikasi lancar, dan kordinator yang tepat. 

Aku akan memecat  atasanku jika ia hanya menyerahkan semua pekerjaan padaku dengan dalih kreatif atau inisiatif, yang mana aku tidak punya tanggung jawab untuk melakukannya. Terlebih jika pimpinan tidak memiliki dua sifat itu. 

Dia diam, mungkin tidak sepakat dengan yang kusampaikan. Namun aku tidak keberatan. 

"Soal gaji juga," kubilang pelan-pelan. Aku juga jujur mengapa aku tampak bermalas-malasan bekerja selama ini, sebab aku tidak ingin loyal. Alias aku tidak ingin dipertahankan oleh kantor.

"Aku ga mau memberi sepuluh jika aku hanya mendapat empat," lanjutku. Ia setuju. 

"Gapapa. Kalau begitu nanti sampaikan aja ke atasan kita, bulan ini jadi waktumu terakhir bekerja." Aku mengiyakan.


Menimbang untuk berhenti bekerja atau resign dalam keadaan tidak lagi tahu pemasukan dari mana adalah hal nekat. Aku masih meraba bagaimana lusa aku hidup. Apa yang kumakan di bulan depan. Dan kekhawatiran tidak bisa menikmati kopi dingin di kafe yang kusuka. 

Tapi bertahan di kantor yang tidak menghargaimu pun bagiku sama nekatnya. 

Keputusanku ini untuk juga untuk berlatih: hiduplah di masa sekarang, jangan di masa lalu atau di masa depan. Toh tidak mungkin Tuhan menciptakan hamba-Nya jika tidak diberikan rezki. Sepakat?


Komentar