Lima Kekhawatiran dalam Lima Sajak

 1. Lima Pot Saja

Lewat daster berbunga merah, mama melonglong pas dengar pemberitaan

ketua bilang: cukup lima pot, supaya dikau tak perlu boros keperluan belakang

terus mama mulutnya manyun, karena ketua lanjut bilang, lahan belakang harap disisakan untuk ternak

lele. Mama menggaruk pantatnya saat lagi-lagi ketua lanjut ngonggong jangan banyak-banyak makan

sambal supaya tidak perlu banyak-banyak membeli si lombok

Ogah-ogoh katanya

ini bukan menyoal lima pot, sebab mama sudah menggali sepuluh pot cabai, tapi yang mengakar hanya

rasa marah dan kesunyian, mama mau buka ternak lele tapi air mata tak cukup menghidupkan sepuluh

ekornya, mama mengintip halaman, yang mana, tanya dia, rupanya halaman sudah tergusur mesin yang

besar, tajam, dan kejam. Itu rupanya demi bangunan yang tak digunakan, sekarang berhantu juga

suram.

toh mama sudah kenyang

makan garansi perlima tahun sekali. Walau belum dilunas, belum dicermat


2. Sukma Tewas

Timang-timang temanggung nan tanggung

engkau menyial merah yang tangguh

untuk hidup dari hadap

tanganmu cilik tak pernah ceklik

kelak cerita berputar

lalu engkau terpukau lalu memar

menjadi jalar lalu sangar

karena nengok lalu tak benar

timang timang bocah pembangkang

kecilmu dengan belalang, agak besar pindah pemberang

jiwamu tak terselamat

jiwamu telah dilumat, jiwamu telah ditewas


3. Puan

Di negaraku ada dua puan

yang satu mudah membeli tanah, yang satu berpikir untuk membeli penyerap cairan darah

yang satu bisa sekolah, yang satu berpikir untuk membuat rambut basah

keduanya sama-sama bisa birahi, punya berahim, dan ditakdir berlahir

Di negaraku ada dua perlakuan untuk puan,

Pertama tangannya direbut untuk disalim

Lalu lainnya adalah antonim

Suatu ketika bacaan mengantar, keduanya adalah jiwa yang sama

ia sama-sama punya payudara, bokong yang kuat, dan pinggul yang lebar

suatu hari kehidupan mengajar,

kalau yang dipunya tak berfungsi sama, ia bisa dibanding, bisa disindir, juga dilantar

di negaraku, tentang puan banyak dibicarakan

tapi tak semua ingin menjadi paham

membuat para puan takut tumbuh besar, takut mempunyai puan yang kecil, takut dan banyak sekali

rasa takut


4. Menjadi Buta

Aku dan kamu, kita dibohong oleh dia

janji bualnya yang kaya itu disuap kepada kita yang miskin ini

kata dia yang manis itu ditelankan pada kita yang nelangsa

kita disesatkan, pada miskin yang lebih sulit tak bisa digambar

kita dibodohkan menjadi bodoh lebih bodoh sampai mengadoh

kita ditumbuh, diproyeksi, dibentuk, wujud fakir nan kikir

tapi kamu,

kamu rela haknya diperkosa

sampai berkeringat basah kau masih mengagungkan dia

sampai tulangmu membengkok goblok

kau masih tercaplok-caplok bilang dia yang nomor satu

jam tidurmu anjlok, gajimu jeblok

kau naïf ingin terus dicaplok


5. Umur Dua Puluh Tiga

1)

Kelak kau pasti juga tahu apa yang buat aku resah, bahwa aku tinggal di negara ini, masih dengan

almamater berstatus mahasiswa tapi umur sudah dua puluh tiga. Tiap kembali ke rumah sewa, aku

dikejar rasa takut, kalau-kalau aku adalah beban negara, yang belum menyelesaikan semuanya dan tidak

berpenghasilan. Membuka sosial media, sebuah syarat kerja bersayarat maksimal usia dua puluh lima,

ini artinya dua tahun jelang aku mengejar

2)


Di sebuah kafe aku menghadap ke arah dinding, memastikan tidak apa-apa meneguk kopi diumur dua

puluh tiga tanpa menjadi apa-apa. Aku bersembunyi di rasa khawatir, menepis dosa, dan menormalkan

semuanya. Dalam ruang yang teman pada menghilang, pesan pencarian dari dosen pengajar, dan

perhatian orangtua menjadi sebuah tekanan, Americano dingin memeluk menjadi kehangatan

3)

Usia dua puluh tiga itu baru bebas dari pelukan bedong, di negara sebrang. Namun di negara ini dua

puluh tiga harusnya sudah berpengalaman kerja dua puluh tahun. Menjadi sebuah kekhawatiran mental

yang diabaikan dan tidak dipandang. Menjadi timbang-timbang apakah hidup ini sekalian untuk

diselesaikan?

Komentar

Postingan Populer