Bernadya Terlalu Benar, jadi Tidak Nyaman Didengar

Lirik lagu yang dilantun Bernadya terlalu jujur untuk menemani hari-hari, namun terlalu persis

dan tidak nyaman untuk didengar. Entah apa ujian yang  dilewatinya,

bisa membuat kalimat yang menyayat pendengarnya. Merasakan gejolak, bimbang,

dan perasaan ditinggal.

Untungnya, bumi masih berputar

Untungnya, ku tak pilih menyerah

Untungnya, ku bisa rasaa

Hal-hal baik yang datangnya belakangan 


Ia ajak sikap pantang putus asa, walaupun kau berduka sendiri. Memang berat,

saat menerima segalanya tidak sesuai dengan hal yang kau ingin.

Tapi siapa yang peduli, sebab kehidupan terus berputar. Orang-orang tetap akan mengprint file,

memanaskan kuah mie ayam, menambal ban di pukul tujuh pagi dan lain-lainnya. 

Sementara kau merasa hidupmu berhenti dan menghadapinya sendirian.

Pada akhirnya ini mengantar pada dua pilihan: menikmati rasa sedih ini secara berlanjut,

atau mencoba hal lain untuk mencoba bangkit melanjutkan kehidupan.


Kukarang cerita yang semula tak ada 

Caraku sampaikan seolah semua nyata

Agar semuanya setuju

Dan yakin pada pilihanku

Memilihmu


Hingga sebuah pertanyaan menyapa. "Kau bahagia, dia baik denganmu?"

Kubilang ia baik, menghargaiku, menghormatiku. Tidak untuk membanggakannya,

namun supaya kau memihak denganku untuk memilih dia. Padahal ini bukan jawaban

yang ku mau, kurasakan, dan kuingin. Supaya orang-orang tahu, yang kupilih adalah orang

yang bisa memberi rasa lindung, walaupun entah kepada siapa.

Apakah sebesar itu hingga

Kau pergi tanpa aba-aba?

Bahkan tanpa alasan

Hingga ku harus menerka-nerka

Salahku di mana


Berat bukan? Seseorang yang menjadi pijakan namun pergi.. Tanpa tanda, tanpa cerita. Ini

buat frustasi, sebab harus intropeksi. Apakah ini keinginanmu, atau salahku? Bagian aku

berbicara, bertanya, caraku becanda, atau bagian mana? Bagian mana yang pada akhirnya

membuatmu menjadi pengkhianat. Sejak kapan, momentum yang mana. Kenapa tiba-tiba,

tidakkah kau ingin beri pertanda?


Kita tak temukan jalan

Sepakat akhiri setelah beribu debat panjang

Namun kau tampak baik saja

Bahkan senyummu lebih lepas

Sedang aku di sini belum terima


Bohongkah tangismu sore itu di pelukku?

Nyatanya pergiku pun tak lagi mengganggumu

Apa sudah ada kabar lain yang kautunggu?


Kau bilang waktu itu tak bisa hari tanpaku. Jangan pergi, katamu. Ya mungkin karena

bumi terus berputar, kondisi tak lagi sama. Orang datang dan pergi, dan aku bukan

satu-satunya. 


Sudah adakah yang gantikanku

Yang khawatirkanmu setiap waktu

Yang cerita tentang apa pun sampai hal-hal tak perlu


Mengkhawatirkanmu dari jauh, sebab aku yang tak bisa lagi menyampaikannya

seperti mula. 


Ku tak pernah ikat rambutku lagi semenjak kaubilan

Rambutku indah bila terurai panjang

Bernadya, kegilaaan ini ingin mengantarku menjadi botak. Rambutku rontok terus

terusan. 


Ingin sempurna di matamu

Hanya itu yang aku mau

Namun, tampaknya sempurna tak cukup

Bagimu, hm-mm

Aku tidak ingin terlihat baik. Aku hanya ingin menjadi sempurna, supaya kau masih

tinggal dan selalu ada di sini. Tapi aku akan selalu mengingat, pada bait bahwa bumi

terus berputar dan jangan menyerah. Sebab hal baik ada setelahnya. 

Komentar

Postingan Populer