Proberen Tangga Melodi
Bersama kisah tak yang terungkap
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap
-Payung teduh
Aku mematikan earphone dan segera naik ke bus yang baru saja berhenti di halte. Di Rabu ke dua bulan November ini, langit sedang tidak bersahabat. Hujan terus turun membasahi kota kami, sejak tadi malam. Jaket tebal berwarna kuning yang kukenakan pun tidak mampu menahan badanku dari dinginnya pagi dipukul tujuh lewat sembilan menit.
“Aren?” panggil seseorang. Aku menolehkan kepala dan melihat lelaki yang sebaya sepertiku. Namanya Sande, dan kami satu kelas di kelas musik. “Hai,” sapaku bersahabat.
“Semoga berhasil.” Aku hanya tersenyum menanggapinya. Lalu bus berjalan dengan pelan, bersama musik yang mengiringi perjalanan.
Namaku Arena Bilsah, sekolah di SMA Seni yang cukup terkenal di kota ini. Sebulan sudah jadwalku cukup sibuk, mempersiapkan lomba piano tingkat nasional yang digelar oleh sebuah perusahaan ternama. Dan Sande tadi adalah salah satu sainganku. Kami saling berpacu untuk menunjukkan kepada sekolah, siapa yang pantas untuk menjadi perwakilan di antara kami semua .
Namun entah mengapa, belakangan ini aku terus kepikiran kalau aku akan kalah.
“Kamu pasti jarang mengulang di rumah kan? Jari-jarimu terlalu kaku Ar,” ucap Bu Zura setelah mendengar permainanku. “Baik, saya ulang kembali Bu.”
Aku menekan tuts-tuts itu dengan lembut, namun tetap saja raut wajah Bu Zura sama sekali tidak menggambarkan kepuasan. Aku terus memainkannya, membaca partitur yang sebenarnya memecahkan . “Cukup. Ibu ragu kalau kamu terus tetap bertahan di sini,” ucap Bu Zura dengan mata yang begitu dalam menatapku.
“Saya ulang lagi bu.”
“Sudah, kembali berlatih sendiri saja sana,” ucapnya padaku. Baiklah, aku bangkit dari kursi ini dan meninggalkan ruangan untuk pergi jalan-jalan sebentar. Yang kulihat hanya beberapa para siswa yang juga saling berambisi dalam kesempatan ini. Aku menginginkannya, namun menurutku kompetisi ini terlalu kejam untuk menjadi pemenang. Namun bagaimanapun, aku harus tetap berlatih untuk mendapatkan satu mimpi ini.
Tapi semua keinginanku hilang
luka menghampiri, bahagia menjauh
Tapi semua keinginanku hilang
luka menghampiri, bahagia menjauh
-Payung teduh
“Buruk sekali, bagaimana bisa berhasil.” Aku memutar kepala, dan melihat Sandra yang tengah menatapku. Ia menyeret salah satu kursi di samping dan duduk di sana, mengendalikan piano dengan jemari-jemarinya di atas tuts piano. Demi langit yang tidak pernah lelah berganti jadwal di siang dan malam, permainannya benar-benar sangat memukau dengan melodi-melodi yang begitu rapi. Sandra memainkan musik klasik Prancis yang baru kudengar untuk ketiga kalinya.
Gadis satu angkatan denganku yang bisa memainkan semua alat musik itu menyudahi permainan, dan menatapku dengan tatapan yang tegas.
“Sekarang keluar dari daftar peminat kompetisi itu,” ucapnya sambil menggulung seragamnya pergelangan tangan ke atas.
Aku menggelengkan kepala, kompetisi itu begitu berarti walaupun aku tidak tahu menang atau kalah berada di sana nanti. Ditambah lagi keluargaku sangat mendukungku mengikuti perlombaan itu. Setidaknya, aku harus memenangkan seleksi ini dahulu.
“Permainanmu buruk. Sangat buruk malah, akan membuang waktu jika memaksa tetap ikut seleksi. Kau akan gagal,” ucapnya menohok.
“Bagaimana jika tidak?” tanyaku dengan perasaan marah.
“Bagaimana jika iya? Pasti lelah sekali kalau harus bangkit dari kecewa,” katanya dengan alis naik sebelah. Aku menelan ludah, tidak percaya pada apa yang baru saja diucapkan Sandra.
Sebelum ia pergi, selembar kertas ditinggalkan di atas mejaku. Kertas poster tertulis kompetisi piano yang ditaja oleh mentri kebudayaan di tiga bulan mendatang.
.
“Mengundurkan diri?” tanya Bu Zura kedua kalinya di hadapan banyak orang. Aku mengangguk mantap, pilihan ini sudah kuputuskan sejak dua hari yang lalu.
“Baiklah,” ucapnya padaku. Aku memutar badan dan menatap semua mata yang melemparkan tanda tanya di wajah mereka. Baru saja memegang knop pintu, Bu Zura kembali memanggil namaku. “Arena.”
“Mental pianis itu memiliki kesabaran yang kuat.” Aku mengangguk lemah dan tersenyum, lalu pergi keluar ruangan itu dengan beberapa perasaan. Salah satunya ialah perasaan takut menyesal akan keputusan yang kuambil dihari ini.
Aku kalah sebelum berperang, katanya. Namun tenang, aku sudah mempersiapkan beberapa hal yang harus kulakukan. Benar kata Sandra, kemungkinan terbesarnya adalah aku akan sulit untuk bangkit dari rasa kecewa nantinya. Aku tetap berperang, dengan strategi jalan yang banyak mengalami perubahan.
.
Dua bulan sejak hari itu, aku banyak mengurungkan diri dari kebanyakan orang. Yang kulakukan hanyalah bermain piano, menulis lirik, mencari melodi, dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun. Selain di sekolah, aku juga menambah kemampuan pianoku dengan mengikuti les di sore hingga malam hari.
Proberen – merupakan judul yang kupilih untuk lagu yang kubuat selama beberapa bulan ini. Kata yang kuambil dari bahasa Belanda, dengan makna mencoba. Aku pikir, sebuah karya tidak akan pernah bisa dikatakan dengan karya, tanpa ada kemauan untuk mencoba di proses awalanya.
Jemariku menari di atas tuts yang gagah itu. Kerja bagus, makin kemari kemampuanku layak untuk dipuji.
.
Ketakutan bisa bermanfaat, Laila. Ia akan membuatmu tetap merasa hidup. Tapi, jangan biarkan ia menguasaimu dan menebarkan keraguan di hatimu. Saat ketakutan mulai mengambil alih, gunakan satu-satunya hal lebih kuat dan tak terkalahkan untuk melawannya: Hatimu. –Sabaa Tahir
Hari ini telah tiba. Aku berhasil untuk beberapa langkah, namun belum menyelesaikannya. Benar kata Bu Zura, mental pianis haruslah kuat. Tanpa kekuatan, aku tidak akan bisa berdiri di sini. Berdiri di kumpulan orang-orang yang akan menunjukkan karyanya dalam balutan usia yang masih belia.
“Gugup?” tanya Sandra. Aku mengiyakan pertanyaannya. Aku benar-benar gugup sekali, karena ini adalah pertunjukanku untuk pertama kali. Sandra menggenggam tanganku, dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.
“Sudah berlatih maka hasilnya akan memuaskan. Seharusnya begitu.”
Lalu kami mendengarkan dentingan piano dari peserta yang tampil. Benar-benar suatu kebanggan karena aku bisa berdiri di sini. Di sana, di deretan kursi ada Ayah Ibu duduk menungguku. Tidak lupa dengan Bu Zura yang pernah memberi ilmu.
Aku langsung menutup novel An Ember in the Ashes oleh Sabaa Tahir begitu namaku dipanggil. Baiklah, ini kesempatanku untuk mengenalkan karyaku, aku harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Aku harus buktikan kepada diriku di hari kemarin, bahwa aku sudah maju beberapa langkah sekarang. Aku juga harus menunjukkan pada Bu Zura, kalau ternyata aku memiliki jari-jari panjang yang mengagumkan.
Dengan gaun hitam panjang, aku duduk di kursi berhadapan dengan tuts yang selama ini sudah menemani hari-hariku. Semoga hari yang baik.
Aku merasa tercekam oleh pemandangan ini. Mengapa menakutkan? Mengapa terlihat tidak menyenangkan? Gawat, tanganku gemetar. Aku minta tolong, mari bekerja samalah.
Aku memainkan tuts-tuts itu, dan terdengar dentingan yang keluar dengan merdu. Dalam hati, aku menyanyikan bagian lirik dari lagu ini
Tidak masalah tertinggal satu langkah
yang masalah memutuskan menyerah
Tidak masalah menunda kapan dalam berkarya
yang begitu salah siapa yang menjatuhkan karya
Seperti anak bayi terlilit kain bermotif batik
lelah menangis tak pernah mencoba
Melodi itu naik turun tidak tetap pada tangganya, begitu juga dengan perasaanku saat ini menorehkan sebuah karya. Aku tidak ingin berpikir apakah melodi ini disukai atau tidak, namun visi dari judul lagu ini terlunas sudah. Mencoba: adalah mengapa sebuah karya bisa dinikmati para ketidaksengajaannya.
Prok…Prok…Prok…
Aku menundukkan kepala cukup lama, sebagai ucapan terima kasih kepada orang-orang yang bersedia mendengarkan semua ini. Kepada orang-orang yang sudah membantu karya ini. Aku sangat berterima kasih sekali.
Rokan Hulu, 12 Oktober 2020
Komentar
Posting Komentar