Jasad-jasad Mawar yang Menjelma Menjadi Rupiah

Sepulang dari Surabaya setelah melakukan riset, aku terkurung dalam rumah papan tidak berwarna ini. Tidak ada lampu, karena rumah dengan satu kamar ini memang tidak ada aliran listrik. Hanya ada satu jendela, yang tidak dapat terbuka lebar. Tidak ada meja makan atau kursi di pojokan, karena itu aku lebih sering duduk di lantai berbaring di atas sajadah atau kasur tipis sebagai tempat tidurku. Kalau aku mengeluarkan kepala dari pintu papan ini, pertama kali yang kutangkap adalah pohon kelapa yang berjajar dengan mawar-mawar di halaman. 

Tidak ada tetangga, ataupun lalu lalang seperti di perkotaan, Tidak ada deru tangis anak-anak yang berebut mainan. Kelebihan dari rumah ini adalah, masih ada kamar mandi dan dapur untuk memenuhi kebutuhan hidupku.

Hasil tes di seminggu silam, menunjukkan kalau aku positif virus corona. “Amaya isolasi mandiri ya. Karena belum terlalu parah, tidak apa-apa jika dirawat di rumah,” ucap petugas kesehatan dengan seragam ‘austronotnya’. Sayangnya, isolasi mandiri yang dimaksudkan oleh para warga di sekitaran rumah dan keluargaku adalah pengucilan di rumah ini. 

 “Apalagi selanjutnya,” keluhku menantang langit-langit kamar. Satu minggu, dua hari aku sudah terpenjara di sini. Tidak ada yang dikerjakan karena memang tidak ada yang bisa dilakukan.
 Aku berkeliling di sekitaran rumah itu. Walaupun sudah seminggu lebih di sini, aku belum pernah melihat-lihat keadaan rumah, terutama sekitaran belakang. Ada tumpukan papan berukuran persegi 9x9 dan koran usang yang ternyata koran tahun 2008. Masih bagus, hanya saja begitu lembap dan warna yang sudah tidak berwarna abu-abu koran lagi
.
Setelah melihat-lihat beberapa tumpukan, aku melangkah ke depan. Halaman ini begitu terlihat tertata dengan mawar-mawar merah bermekaran. Memetik daun, aku menyetujui kalimat yang pernah kubaca di dalam buku, kalau alam akan tetap berkembang dan baik-baik saja selagi tidak ada manusia di sekitarnya. 
 Ada banyak papan, koran, dan mawar yang tumbuh begitu subur tiap tangkainya. Aku langsung teringat dulu zaman SMP pernah membuat herbarium pelajaran Biologi bersama Bu Waddah. Ah, mengapa aku tidak membuat herbarium mawar dalam penjara saja?

Pesan dari Bu Waddah yang masih terngiang adalah, kalau ingin melenyapkan satu bunga, maka tumbuhkan lima bunga lainnya sebagai pengganti. Berbekal pisau dan gunting yang pernah dibawakan ibu dari rumah, aku mencoba melakukan stek pada batang mawar itu. Ada enam bunga yang akan kumsukkan ke penjara, dan ada beberapa batang tersetek yang akan melahirkan tangkai-tangkai lainnya.
.
Sinar pagi yang menembus lewat dinding-dinding papan ini memaksakanku membuka kelopak mata. Masih dengan mukena dan tergeletak di atas sajadah berwarna kelabu ini, ternyata aku tertidur setelah salat subuh. “Ah, tanggal berapa ini?” aku mengecek hp yang tersambung dengan power bank. Empat hari lagi, aku harus menjalani pemeriksaan setelah lamanya bersembunyi di rumah kosong.

“Halo, apa kabar?” tanyaku pada tumpukan koran dan papan itu. Mawar-mawar itu terhimpit di antaranya, menggepeng dan ikut merubah pada bentuk dan warna.  
“Seperti ini. Aku bingung harus melakukan apa, jadi temani aku di rumah ini ya. Jangan takut, aku tidak akan menyakiti kalian.”
.
Hari-hari yang disibuki dengan mengamati kemajuan herbarium, tanpa kusadari empat hari yang kutunggu telah tiba. Ambulance sudah di depan, dan aku sudah harus pulang dengan pemeriksaan. Kalau masih saja ada virus itu di badanku, aku akan kembali ke istana yang sebelumnya kujuluki dengan penjara ini. Namun, apabila sudah mati aku tidak akan pernah datang kembali. Sebelum pulang aku memajang jasad mawar itu di dinding dengan bingkai yang kubuat sendiri. 
“Semoga kita tidak pernah berjumpa lagi,” ucapku pada satu batang mawar yang tersisihkan.
.
November, 2020
Perkenalkan, namaku Amaya. Mahasiswi semester enam jurusan seni rupa. Saat ini aku fokus pada perkuliahan, dan juga bisnis yang baru kudirikan. Sejak pembengkaman dua minggu di rumah kosong itu, aku terpikir untuk lebih banyak membuat herbarium-herbarium dengan bubuhan goresan di atas kanvas. Kata orang aku pesulap, mampu menyihir kertas dengan tinta dan warna-warna. Beberapa orang lagi menyebutku dengan tukang sihir, memadukan tanaman dengan kesenian di atas lembaran kertas putih yang kosong.

Berteguh pada prinsip menghilangkan satu bunga dan menggantikannya dengan lima bunga lainnya, aku sekarang juga berbisnis tanaman di halaman samping. Karena terlalu banyak bunga yang kugantikan, rumah ibu disesaki dengan beberapa tanaman. Akhirnya ayah memberi saran, untuk menjual bunga-bunga itu di samping halaman.

“Halo, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku di telepon yang berdering.
“Saya mau memesan pajangan untuk di rumah. Konsepnya tentang gadis kecil, ukuran kanvas terbesar. Warna hitam putih ya.”
“Baik Ibu, untuk pengambilan akan saya hubungi lebih lanjut ya. Terima kasih,” ucapku. Kemudian telepon itu mati tertutup. 
Gadis kecil itu kulukiskan menggunakan jilbab berwarna hitam, simbolis ketegasan. Gadis itu berdiri di atas mawar yang sengaja kujasadkan, dengan tangan kanan memegang daun dari tumpahan air hujan. Di antara kakinya kugoreskan arsiran, bahwa ia sedang berlari; mengejar waktu, atau mencari kepastian? Ku lukiskan senyuman di wajah lugunya, ternyata gadis itu tengah berpuisi. 

 2020 adalah awal yang menjadi alasan mengapa aku bisa berdiri di sini. Terkurung dalam gerbang kelelahan, bukan berarti aku bisa diam. 2020 begitu membebankan, namun semuanya akan berjalan baik-baik saja dengan kekreativitasan dan semua keproduktifan. 

Komentar

Postingan Populer