Susur Sungai, Susuri Kekecewaan

Delapan hari kami berkelana. Humendala bawa aku ikut serta, sebagai perwakilan dari Bahana. 

Kegiatan kala itu adalah Susur Sungai Kampar, salah satu sungai terbesar di Riau. 



Dari desa ke desa kami singgah. Pertama ke Buluh Cina, lalu susuri perairan menuju Langgam. Selain jumpa air, aku disuguhi pemandangan yang menyejukkan. Ada berbagai pohon di sana. Juga pertambangan, juga sawit, dan sampah di beberapa titik sungai. 

Kami turun ke nelayan yang ada di sana. Ia sudah puluhan tahun enyami profesi ini. 

Haryanto, itu namanya. Dia bilang kualitas air masa kini dan dulu berbeda. "Sekarang sudah tercemar," ucapnya. Limbah perusahaan, limbah rumah tangga, limbah industri yang turut memperkeruh kualitas sungai. Wajahnya kian pasrah ungkapkan memori sungai masa ia kanak-kanak dulu. 

Kami sudahi bicara dengan Haryanto. Kami naiki perahu karet lagi. Ucapan Haryanto masih tertinggal di kepalaku. Bagaimana ia kecewa dan pasrahnya akan sungai saat ini. 


Kami -- aku, Bang Hamidi sebagai dokumentasi, Rio dari  Humendala, dan Zulki yakni operator kapal bergegas lanjutkan perjalanan. 

Agaknya emanglah benar, sungai sudah tercemar hebat. Hal ini kami dapatkan dari cerita nelayan lainnya. 

Saat itu sungai sudah dekati wilayah Pelalawan. Katanya limbah dari perusahaan lain sempat bocor, akibatkan ratusan ikan mengambang mati. Ada yang bilang 3 hari, ada yang bilang 2 minggu. Ada pula yang bilang terjadi tiap tahun dalam kurun waktu setahun sekali. 

Masyarakat di sana langsung ambil ikan-ikan yang mati itu. Ada yang mengonsumsinya, ada yang menjualnya. 

Kata mereka, penjualan ikan tidak laku keras. Lagipula rasa ikan sudah hambar. "Tidak ada manis-manisnya,"


Jawaban antar nelayan kebanyakan sama. Mereka susah cari ikan masa saat ini. 

"Kalau dulu, awak cari ikan tu cepat. Tinggal saja masak nasi, ikan dan udang banyak tertangkap. Sekarang mana bisa, harus tinggal selama dua sampai tiga malam."

"Dulu awak masih kecil setelah main bola langsung saja minum air sungai tu. Sekarang ga bisa, bisa-bisa sakit kita."


Kegiatan susur sungai ini, aku banyak dengar kekecewaan dari para masyarakat. Khususnya nelayan. Banyak terdengar keluhan tapi tak ada tindak lanjut dari orang besar. Banyak yang kesusahan, namun tak didengar rintihannya. 


Hingga kami sampai ke Kerinci. Keluhan tidak jauh berbeda. Sama saja yang dirasakan semua nelayan. 

Limbah, sampah, setrum ikan. 







Komentar

Postingan Populer