Aku yang Sebenarnya Kerumunan

 - Judul yang terinspirasi coretan karya seseorang dari base @literay twitter

Aku tidak terdiri dari satu orang, juga tiga atau dua. Dalam badanku, ada empat hingga lima ratus delapan, atau bahkan seribu orang. Wajahku tebal, akibat tumpukan topeng yang harus kutukar tiap harinya. 

Tidak sulit, kehidupan hanya panggung yang aku menjadi tokoh utamanya. Aku hanya perlu tertawa di panggung sebelah. Tertawa terbahak-bahak hingga perutku mereng karena cerita sedih yang menyayat hati.

Di panggung satunya, peranku menjadi religius. Hari ini menjadi Maryam, nantinya Khadijah, lalu Aisyah. Aku juga menutup badanku dengan kain panjang. Yang warnanya gelap, supaya mirip dengan wanita Arab. Bicaraku pelan sekali, kututurkan bahasa Arab supaya mereka memiripkan diriku dengan ukhti-ukhti penghuni surga. 

Di panggung seberang, aku menjadi pelawan. Kerjaku mengkritik, melontarkan kata anjing dan menendang sampah bernyawa. Tidak segan, ancaman suatu hari nanti kau akan kubunuh itu terlontar begitu saja. Aku juga kadang agamis, berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk mematikan sampah-sampah yang kerjanya membuatku marah. Kadang aku seperti pasien di rumah sakit jiwa, tak terkendali amarahnya. 

Menjadi tokoh wanita rendahan aku pun pernah. Namun tak parah, palingan hanya melihat gambar porno yang berseliweran di dunia maya saja. Namun untuk orang yang mendapatkan gelar alim dari orang yang tidak mengenalku, rasanya membuatku bersalah. 

Aku ini kerumunan. Masih banyak lagi tokoh yang kuperankan. Jadi tak hanya baik atau rendah hati, kadang bajingan pantas diucapkan padaku. Aku ini ramai sekali. 

Komentar

Postingan Populer