Perempuan

 Kemarin malam, aku bercerita dengan kakak tingkat saya. Sebut saja namanya Amay, walaupun bukan nama sebenarnya. Sebelumnya kami melingkari meja beramai-ramai. Kalau tidak salah ada enam orang di sana. Satu per satu meninggalkan tempat. Hingga tersisalah aku dengan Amay.

Topik pembicaraan kami malam itu mengenai perempuan. Berangkat dari permasalahan jodoh dan kodrat, perempuan selalu ditempat yang salah. Amay sebut kutipan Eka Kurniawan, kurang lebihnya tertulis bahwa perempuan ditakdirkan menjadi pelacur, yang dibayar dengan sedikit cinta dan mahar untuk selamanya. Aku membenarkan ucapannya, terlepas dari agama yang sebenarnya menjunjung tinggi perempuan. 

Realitanya, perempuan selalu ditempat yang dipersulit. Kau tidak cantik, kau terancam. Kau cantik, kau berada dalam masalah. Kau miskin, kau tidak bisa berekspresi. Kau kaya, kau hanya menjadi tontonan bersama. Walaupun laki-laki kerap merasakan hal ini, tapi perempuan sebenarnya yang lebih rumit merasakannya. Ah, itu hanya opiniku. Aku tidak membutuhkan pembenaran orang-orang atas apa yang baru saja kutulis.

Hari ini, usiaku 19 tahun. Lima tahun kemudian menjadi 24 tahun. Tinggal di perkampungan menjadi momok besar bagi perempuan yang berpikiran sepertiku, bahwa pernikahan bukanlah ajang perlombaan pada angka usia. Tapi tetangga mana yang mau memahami? Bukannya bisik-bisik tidak laku dan tidak normal akan berterbangan? Padahal, jika saja sebuah pernikahan gagal, tidak satupun tetangga akan bertanggung jawab atas pernikahan itu.

Perempuan. Lagi-lagi perempuan diposisi sulit saat tidak menikah diusia 25,27, 32 dan seterusnya. Orang-orang akan menolerir laki-laki yang membujang hingga usia 31 tahun. Dan bertanya-tanya kenapa belum menikah pada perempuan yang usia 27 tahun.

Aku tidak tahu jika diposisi sulit itu. Mungkin akan kurasakan pada beberapa tahun mendatang. 

Terlahir perempuan sebenarnya adalah masalah besar. 

Komentar

Postingan Populer