True Story: Sehangat Api Unggun
inspired by: S.D.P
oleh: Ellya Syafriani
oleh: Ellya Syafriani
Sudah,
jangan susah
Kalau
suka katakan, kalau benci padamkan
Kita
sudah dewasa, dari luka yang bernama
Kita
terpandang, dari dendam yang tak terbilang
Drrtt…Drrtt…
Zalda mengambil gawai yang bergetar
di atas meja, jemarinya berpindah dan menari di atas layar. Segaris senyum
tergurat diwajahnya, tidak lama ia berdiri dan pergi dari ruangan. Sosok tubuh
kecil dan menjulang tinggi berdiri dengan balutan pakaian berwarna coklat, kacu
merah putih melingkari lehernya yang menonjolkan tulang. Senyumnya manis,
dengan model rambut yang baru saja dipotongnya.
“Tadaa,” teriak lelaki itu dengan
kue yang dipegangnya. Zalda menunduk tersipu, kepalanya menggeleng ke kanan dan kiri dengan
mulut yang ditutupi dengan telapak tangannya.
“Tiup dulu dong apinya, jangan
lilinnya hehe,” ucap pria itu kembali sukses membuat Zalda tersenyum.
“Makasih ya Alfi!” kata Zalda pada
lelaki yang dipanggil Alfi itu. Alfi mengangguk, melempar senyum manis pada
Zalda.
“Eits, I have something,”
ucap Alfi lagi sambil memberikan kado yang berbungkus kertas padi. Lambang
tunas kelapa terlukis gagah di sana. Zalda melirik mata elang milik Alfi, lalu
mengambil kado dari tangannya.
“Jangan buka sekarang, tapi janji
samaku. Wajib pakai waktu malam api unggun di perkemahan besok, ok?” ucap Alfi
sambil memberikan kelingkingnya pada Zalda. Zalda mengangguk paham dan
menyatukan kelingkingnya dengan Alfi. Setelahnya Alfi pergi, melangkah jauh
dari hadapan Zalda.
Muhammad Alfisyah. Lelaki yang
menempuh pendidikan di salah satu SMA Swasta di Pekanbaru, mengenal Zalda yang
berbeda sekolah dengannya. Kedekatan mereka bermula dari perkenalan saat
perwakilan kemah antar provinsi. Menjadi perwakilan dari Pekanbaru, membuat mereka sering jumpa untuk latihan.
Alfi suka menjahili Zalda yang selalu menggembungkan pipinya saat marah, dan
sekarang ia juga memberi perhatian kepada gadis yang bernama Zalda.
J
“Alfi, kenalkan ini Aida. Temanku
satu sekolah,” ucap Zalda pada Alfi. Alfi melirik sekilas, kembali berkutat
pada simpulan talinya di stok. Zalda kesal, ditendang betis tepat pada tulang
keringnya.
“Aduh…” ringis Alfi kesakitan,
dielusnya betis yang baru ditendang Zalda.
“Apaan sih?” cuek Alfi yang enggan
diganggu.
“Kenalin dong! Aida, teman aku,” ucap
Zalda bertolak pinggang. Mulutnya mengembung dan matanya terus menatap tajam
Alfi. Alfi melihat Aida, gadis yang katanya akan menggantikan Dona pada
perkemahan ini.
“Aku Alfi, yang paling ganteng,” ucap Alfi sambil mengulurkan jabatan tangan kanannya pada gadis di hadapannya.
Aida menyambut ulurannya, “aku Aida,” ucap Aida dengan senyum hangatnya. Kedua
pasang mata itu bertemu, mengalirkan sengatan kenyamanan yang tanpa disadari
keduanya Zalda sedang cemburu.
Perkemahan besar akan dilaksanakan
empat hari lagi. Berbagai anak SMA yang bercampur menjadi dalam satu tim saling
bekerjasama untuk mengharumkan provinsi mereka. Setiap jam empat sore, sepulang
sekolah semuanya berkumpul pada pendopo Pramuka untuk latihan persiapan kemah.
J
“Zalda. Tahu ga, Alfi kemarin chat
aku. Ternyata dia itu lucu banget ya,” ucap Aida pada Zalda. Zalda melirik
sekilas dan tersenyum, menyembunyikan luka dihatinya dengan menyambut cerita
Aida dengan semangat.
“Bagus dong Ai. Dia itu baik juga
lho, beda dengan laki-laki lainnya,” puji Zalda pada Aida. Pujian yang
seharusnya disimpan dalam hati, kini ia telah lontarkan untuk mendukung
temannya.
“Kayanya aku suka dia deh!” lima
kata meluncur ringan dari bibir kecil Aida sukses membuat Zalda sumringah,
sebuah dusta yang ditutupi dengan tawa.
“Ciee… Aida suka Alfi,” goda Zalda
mencoel pinggang Aida. Keduanya tertawa, dengan ritme yang berbeda. Benar,
hanya Tuhan yang mengerti arti gelombang sebuah senyuman.
Zalda galau, semenjak ia mengenalkan
Alfi dengan Aida, Alfi menghilang dari hadapannya, pesan yang selalu dikirim olehnya tidak pernah
lagi diterima oleh Zalda. Semakin waktu berusia, semakin hancur perasaan Zalda.
Latihan yang selama ini dijalani dengan semangat kini luntur karena hilangnya
orang yang menjadi alasan Zalda tersenyum.
Hingga hari itu, tibalah hari
perkemahan. Ratusan siswa berbalut pakaian cokelat membentang luas di bumi
perkemahan. Beberapa regu meriuhkan yel-yelnya, namun ada juga yang masih lelah
karena perjalanan panjang.
“Zalda. Pinjam topi,” ucap Alfi
merebut topi di atas kepala Zalda. Zalda mendengus kesal, topi gayanya yang
berwarna biru untuk berlindung dari sengatan matahari kini telah dipakai oleh
Alfi.
“Aku bawa dulu ya, dada…” ucap Alfi
sambil berlari sebelum Zalda mengamuk. Zalda menggerutu, lalu kembali fokus
mendirikan tenda bersama teman-temannya yang lain.
Sepanjang hari topi biru itu masih
dibawa Alfi, bukan masalah untuk Zalda.
Yang menjadi masalahnya adalah gadis yang post foto Alfi dengan topi
miliknya. Aida, gadis itu Aida.
J
Beberapa
kayu didirikan. Puluhan lelaki mulai dari yang kurus hingga berisi ikut
menggotong kayu untuk api unggun nanti malam. Zalda mengintip Alfi dari celah
tendanya, ia tersenyum meski ada hati yang harus terobati. Topinya, dari awal
perkemahan hingga hampir selesai terus dikenakan oleh Alfi. Nanti malam, ada
pemberian Alfi yang akan dikenakannya. Sebuah sweater berwarna abu-abu.
“ZALDAAA,” teriak Aida dari luar.
Kepalanya menongol dari luar yang disusul badannya. Aida memeluk erat Zalda,
dan mengucapkan beberapa ucapan terima kasih.
“Apaan?” tanya Zalda heran.
“Aku jadian sama Alfi.”
Tidak seperti kemarin yang mampu
tertawa, berita yang dibawa oleh Aida membuat badannya lemas seketika.
Tiba-tiba ia membenci Alfi, juga gadis yang menjadi temannya di hadapannya ini.
“Selamat ya Ai. Kamu berhasil,”
lirih Zalda menunduk. Aida terdiam, menyerngit dan tahu makna wajah Zalda.
“Kamu suka sama Alfi?” tanya Aida
menggoncang pundak Zalda.
“Kemarin. Sekarang aku benci sama
dia. Tinggalkan aku sendirian, pergi Ai.” Tegas Zalda pada Aida. Tidak ada lagi
kepura-puraan untuknya. Hatinya meminta hak untuk membrontak setelah sekian
lama memendam rasa cemburu.
Upacara api unggun segera dimulai,
sejak kejadian dengan Aida di tenda tadi suasana menjadi canggung. Satupun
teman mereka tidak ada yang menyadari atas sikap diam Zalda. Hanya hatinya yang
bisa menenangkan kegalauannya, dan hanya Alfi yang bisa menhibur Aida atas
sikap gelisahnya.
“Eh, dipakai juga. Cocok ya, aku
pikir bakalan kekecilan. Soalnyakan badanmu sebesar gajah, jadi aku susah
nyarinya. Hehehe,” ucap Alfi melihat Zalda yang menggunakan hadiah ulang
tahunnya. Zalda bersikap cuek, ia kembali menyeruput teh hangat yang diberi
oleh kakak pembina.
“Hangat,” ucap Zalda dengan tatapan
kosong ke arah api unggun. Pikirannya kembali pada kejadian di dalam tenda.
Menyesal karena telah marah, padahal Alfi bukan siapa-siapanya.
“sweater atau tehnya?” tanya
Alfi. Zalda menolehkan kepalanya, menyunggingkan sebuah senyum. Bagaimanapun ia harus memaafkan dirinya karena
telah jatuh cinta pada lelaki dihadapannya.
“Api unggunnya,” ucap Zalda merebut
topinya dari kepala Alfi dan berlalu dari hadapan lelaki itu. Alfi menahan
tangan kanan Zalda yang terlapis sweater.
“Kita temanan kan Zal? Iya, kita
temanan kan sampai besok kita tua dan selama-lamanya kita tetap temanan kan?”
tanya Alfi serius. Zalda terkekeh melihatnya, selama ini ia tidak pernah
seserius itu.
“Kita temanan dan ga akan pernah
berubah!” ucap Zalda tenang. Badannya yang membelakangi api unggun terlihat
cantik. Estetik!
“Maaf sudah membuat cemburu,” gumam
Alfi menunduk. Menyesal atas ketidaktahuan perasaan Zalda pada dirinya. Zalda
terdiam, memandang Alfi yang berhasil mencuri hatinya. Saat mencoba menggeleng,
Zalda menangkap sosok Aida di antara teman-temannya yang lain tepat di belakang
Alfi. Mata Aida yang memohon dengan rautnya yang mengalah. Kembali menatap Alfi, Zalda memasangkan topi
miliknya di kepala Alfi.
“Siapa yang cemburu? Cemburu itu
dikarenakan mencintai orang lain. Aku ga cinta siapa-siapa, mungkin kemarin
iya. Tapi sekarang cintaku berubah menjadi benci! Oke, aku pergi dulu. Dia ada
di belakangmu.” Ucap Zalda yang mungkin menjadi kata-kata terakhir untuk Alfi.
Alfi menatap punggung rapuh milik Zalda, kemudian pergi dari tempatnya tanpa
menatap Aida yang menunggunya dari tadi.
Tidak ada yang tahu atas luka
diketiga hati peserta kemah saat itu. Luka atas memendam, cemburu, kehilangan,
dan ketidaksadaran atas perasaan. Api unggun telah menjawab semuanya, memberi
balasan sepadan yang didapati ketiganya.

Komentar
Posting Komentar