True Story: Sajadah Cinta

inspired by: A.U
written by: Ellya Syafriani



Terlalu mengudara dan sombong tak bertuan
Karenanya, aku terlalu berprasangka
Terlalu bodoh, mengkhidmati kesendirian tanpa sadar tercaci dalam keheningan
            Terlalu percaya, kalau akulah yang selalu dikenang           

Bunga Bugenvil yang berdiri kokoh di sisi kiri masjid  menjadi tempat yang rutin untuk ku kunjungi. Melihat Kak Okta sedang shalat duha merupakan hobi baruku, dari kursi di bawah rimbunan bunga yang menjulang tinggi. Kakak yang tengah duduk di kelas dua belas itu memiliki daya tarik sendiri. Bibirnya tipis berwarna kemerahan, matanya sayu dan juga teduh, janggut tipis menghiasi dagunya, dadanya yang kokoh, rambutnya yang selalu terlihat rapi, dan juga lelaki yang selalu menundukkan pandangannya saat berpapasan dengan wanita. Mengingat Kak Okta merupakan kelas unggulan, membuatku ciut saat mengharapkannya. Siapalah aku yang hanya siswi kelas regular dan tidak pernah dianggap ada.
            “Ayo kita ke atas. Kok kamu malah di sini?” tegur Inur temanku mengajakku ke lantai dua masjid di madrasah, tempat dimana wanita shalat, sedangkan pria berada di lantai bawah
            “Aku lagi ga shalat, aku tunggu kamu di sini saja ya,”
            “Kak Okta ya? Wah, setia banget. Saingan kamu banyak lho, banyak perempuan yang ngantri di belakangnya.”
            “Sudah, sana pergi. Nanti terlambat, kita kan mau ke perpustakaan. Lagian aku ga berharap sama dia,” ucapku dengan wajah bersemu. Tanganku erat menggenggam rok yang akan kusut, sedangkan mataku tetap terfokus  pada shaf yang ditempati oleh Kak Okta. Ah, pria itu mampu membuat aku melemah ternyata.  
                                                                        ***
            “Kenapa selalu di sini? Padahal shaf depan kosong,” protes Indri padaku. Ia selalu marah saat aku istiqomah berada di sajadah  yang sama, walaupun shaf depan ku harus diisi.
            “Tentu. Tadi Kak Okta shalat dhuha di sini,” jawabku  dengan ringan. Ah, segalak-galaknya Indri dia tetap sahabat baik yang akan menjaga rahasi aku.
            “Kamu mau mencium Kak Okta secara tidak langsung?”
            “Enak saja. Sudah ah, ayo shalat.”
            Namaku Asma, duduk di kelas  sepuluh disalah satu Madrasah Aliyah Swasta di Kota Horas – Medan. Dikarenakan aku berasal dari luar daerah, orangtua memintaku untuk bertinggal di asrama Madrasah. Sejak hari itu, aku mengenal Kak Okta - kakak kelasku. Pertemuan pertama kami di kantin adalah hal yang tidak pernah aku lupakan, hari itu Kak Okta menciptakan rasa aneh dihatiku. Keringat dingin selalu mengalir saat aku berpapasan dengannya, lelaki yang tidak pernah mengenalku dan mengetahui apa isi hatiku.
            Ah, sajadah itu adalah tempatku. Tempat Kak Okta menyatukan keningnya untuk bermunajat kepada Allah, tempat Kak Okta membisikkan doa-doanya. Dan tempat itu adalah tempat yang selalu disinggahnya, sekarang juga aku. Jika shalat di luar waktu sekolah, keseluruhannya akan shalat di lantai bawah, mengingat anak asrama tidak sebanyak ketika hari sekolah. Shaf singgahan Kak Okta adalah shaf wanita, yang merupakan barisan kedua. Karena itu aku selalu memilih shaf ke-2, dibanding shaf pertama.
                                                                        ***
            Penjual bunga berbaris rapi di jalanan. Memperkenalkan barang dagangan kepada para pembeli, berlomba-lomba menawarkan bunga yang apik nan indah. Aku mengambil salah satu mawar berwarna merah dengan wangi yang semerbak. Namun entah mengapa kaktus yang tertangkap oleh sudut mataku menyita perhatian. Aku pun mengambilnya, dan akan memberikan kepada Kak Okta dihari perpisahannya.
            Gedung dengan tinggi sepuluh kaki itu berisi suasana meriah. Beberapa siswa/i kelas dua belas mengenakan pakaian senada. Wanita dengan gaun syar’i berwarna moca, sedangkan pria dengan jas dan warna yang sama, terlihat mewah dan keserasian yang saling berpadu. Aku berjalan di antara mereka, berusaha menikmati acara dalam keadaan kegelisahan. Tempat keramaian ini tidak menjamin ketenanganku, aku terpisah dari teman-teman di antara murid yang tidak ku kenal. 
            “Kak,” panggiku saat menangkap Kak Okta yang menikmati minumannya di kursi.
            “Iya?” tanyanya sambil meletakkan gelas di meja sebelahnya. 
          “Selamat  untuk kakak yang telah lulus. Semoga kakak lulus di UI, Universitas yang kakak idamkan. Ini untuk kakak, saya suka kakak,” ucapku spontan. Kata-kata yang tidak pernah terpikir olehku kalau aku akan mengucapkannya. Aku berlari jauh meninggalkan Kak Okta dengan kaktus yang sekarang berada dieratan jemarinya. Tidak terasa, pulih bening terjatuh dari mataku.
                                                                        ***
            Tidak ada lagi shaf ku. Kak Okta telah pergi ke jenjang yang lebih tinggi. Tempat itu, sekarang banyak yang menempatinya, begitu juga denganku yang selalu berpindah shaf shalat. Aku tidak bisa lagi mencium wangi rambut Kak Okta, tidak bisa menyatukan kening di sajadah yang sama.
            Semoga kakak menjadi orang sukses nantinya. Semoga Allah kembali mempertemukan aku kepada Kak Okta, semoga kakak merawat kaktus itu. Walaupun aku tahu, kakak sudah menetapkan wanita yang akan menjadi penyanding hidup kakak. Seandainya aku mengenal kakak terlebih dahulu, bukan wanita itu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer