fiction: Jingga Kelabu
written by: Ellya Syafriani
Aku beranjak ke
dapur, mengikuti wangi makanan yang menggugah selera yang memanggil sejak tadi.
Wanita yang kupanggil dengan sebutan ibu membelakangiku, dengan balutan
celemeknya ia mengoseng-oseng makanan di atas kuali besar. Tidak seperti biasa,
hari ini ibu masak dalam ukuran yang cukup banyak.
“Ibu, kok tumben
masaknya banyak sekali?” tanyaku dengan langkah tertatih-tatih. Ibu menoleh ke
arahku, memberi senyuman yang tidak pernah aku lupakan. Dibantunya aku duduk di
atas kursi, meletakkan tongkatku yang sudah membantuku berjalan selama tiga
tahun ini.
“Kita kedatangan
tetangga baru,” ucapnya kembali fokus dengan masakannya. Aku mengangguk,
mengambil beberapa sayuran di depanku dan memainkannya. Aku suka seperti ini,
menemani ibu masak dan mengajaknya bercerita tentang masa kecilnya. Dan ibu
tidak pernah marah, walaupun yang kulakukan mengganggu aktivitasnya.
Tetangga kami
membukakan pintu, seorang gadis berpakaian tertutup dengan gaun berwarna hitam
dan jilbab yang terulur dalam mengesankan keanggunannya. Kuterka, mungkin ia
tiga tahun lebih muda dariku. Sepertiku, ia mengandalkan sebuah tongkat. Tapi
kurasa, ia memiliki kaki yang dikatakan baik-baik saja.
“Umi,” lirihnya
pelan. Seperti berbisik, namun itu suara yang paling kuat. Tidak lama kemudian,
wanita paruh baya seperti ibu datang dari arah belakang.
“Wah, kita
kedatangan tetangga baru sayang. Ayo ibu, silakan masuk ke rumah kami. Maaf ya
bu, saya belum sempat berkeliling,” ucapnya ramah. Ibu menjawab jauh lebih
ramah, berbicara seolah sudah lama mengenal dan rindu karena tidak lama
bertemu. Obrolan ini sedikit, membosankan.
“Yang ini anak
ibu, siapa namanya?” tanya wanita itu denganku.
“Saya Riko tante,”
ucapku pelan. Kulirik gadis tadi, senyumnya tidak pernah lepas dari wajahnya.
Namun, ia memandang ke arah yang berlainan dengan kami.
“Ini anak gadis
tante, namanya Senja. Duduk di kelas delapan SMP, tapi ia home schooling.
Senja itu tidak dapat melihat,” ucap wanita itu lagi. Aku paham mengapa dari
tadi mengapa tatapannya selalu kosong.
“Kalau Riko kelas
sebelas bu, tapi dia masih manja.” Ucap ibu mencoba mencairkan suasana tapi
malah memalukanku. Ah, padahal aku cukup mandiri dan wibawa saat di sekolah.
Para wanita itu tertawa, dan gadis bernama Senja itu juga bersuara.
J
Beberapa bulan
telah berlalu. Setiap sore, aku berkunjung ke rumah Senja. Menceritakan segala
aktivitasku di sekolah, dan menceritakan cerita lucu untuknya. Aku senang,
seolah menjadi kakak yang baik untuknya.
“Mendung kak,”
ucap Senja saat mendengar suara guruh. Aku melihat keluar, abu-abu kehitaman
itu telah membentang luas di atas sana, menggantikan biru yang mendatangkan
kehangatan.
“Iya, sebentar
lagi hujan. Hari ini jangan main di luar ya,” ucapku berwibawa di depan seorang
adik. Senja cemberut, bibirnya manyun. Padahal sebelum-sebelumnya ia adalah
langit biru ceria yang memberikan kehangatan. Tapi kenapa suasana hatinya
seperti cuaca di luar?
“Senja suka
mendung,” ucapnya membuatku bertanya. Tahu apa anak ini tentang mendung, apa ia
tahu seperti apa cuaca saat mendung di luar sana? Apa ia tahu bagaimana bahaya
saat pepohonan saling bergoyang dan meruntuhkan raganya?
“Sebentar lagi
hujan deras Senja. Hujan deras itu bahaya untuk kesehatan,” ucapku beralasan.
Aku tidak suka hujan, aku lebih suka mendekam dalam kamar atau menyantap mie
yang masih panas saat hujan mulai bertumpahan.
“Senja mau mandi
hujan,” lirihnya membuatku kasihan. Ia menunduk, memukul-mukulkan tongkatnya di
lantai. Aku berharap umi akan datang, memarahinya dan menyuruhnya tetap berdiam
saja di dalam rumah.
“Senja, hujan
nak.” ucap umi dari arah belakang. Wajahnya cerah, Senja mengangkat kepalanya
dan tersenyum sumringah, umi membukakan pintu dan memberi celah anaknya untuk
mandi di bawah hamparan bawah langit. Aku terdiam, tidak mengerti keluarga ini.
J
“Jadi Senja itu
suka mendung ya?” tanyaku dari lantai atas. Dari balkon, kami memandangi
ciptaan Tuhan sambil menyantap makanan yang dimasak oleh ibu. Sayang, keindahan
ini hanya aku yang menikmatinya. Senja hanya tersenyum dengan tatapan kosong.
“Senja suka
mendung, karena kalau mendung hujan akan turun.”
“Jadi Senja suka
hujan?” tanyaku sambil mengunyah bakwan jagung. Senja mengagguk, senyumnya
makin sumringah kalau aku memancing-mancing perihal mendung.
“Kata umi, hujan
salah satu waktu yang doa kita akan dijabah oleh Allah Swt. Senja berdoa,
semoga abi mendapatkan ketenangan di sana,” ucapnya lemah. Aku terbelalak,
tidak percaya kalau Senja akan menceritakan perihal ayahnya.
“Abi meninggal
tertimbun,” ucapnya lagi. Sebenarnya aku mau saja menghentikan obrolan ini,
namun saat kulihat wajahnya hanya ketegaran dan keikhlasan yang kudapat. Tidak
ada rasa sedih dan rindu di sana. Dia yang bercerita, aku yang berkaca-kaca. Ku
ingat sosok ayah dalam hidupku, kehangatan kami bersama hingga ia lebih memilih
wanita lain dibandingkan ibu. Kubiarkan air mata mengalir, toh Senja tidak akan
melihatnya.
“Kak Riko suka
apa?” tanyanya masih dengan wajah senyum sumringah. Aku menghapus air mataku,
dan menatap wajah manisnya yang terbalut kerudung berwarna abu-abu.
“Kalau kakak suka
senja.” Jawabku
Senja terdiam.
Senyumnya menghilang, aku kebingungan. Kuperiksa kembali perkataanku dan segera
meralatnya. “Maksud kakak bukan Senja. Jadi gini, seperti mendung ada juga
fenomena alam yang memberi keindahan dibeberapa waktu. Dan ada yang namanya
senja, ia begitu indah.” Ucapku menekankan kata indah sambil melihat mata
bulatnya. Benar-benar indah.
“Haha, Senja pikir
Senja kak,” ucapnya tertawa sambil menutup mulutnya. Aku tersenyum dan mengambil
bakwan jagung untuk kesekian kalinya.
“Lalu kapan senja
itu datang kak?” tanyanya kembali. Aku terdiam kebingungan, gemas dengan
dirinya yang terus menanyakan sesuatu yang tidak dapat ku jelaskan.
“Ya mungkin
sekitaran menjelang magrib,” jawabku asal. Aku melihat wajahnya mengerut, dan
aku membingung dengan air mukanya.
“Kalau gitu, Senja
ga suka senja. Senja tetap suka mendung,”
“Kenapa?”
“Kedatangan senja
yang menjelang magrib itu sama seperti waktu syaitan berkeliaran.” ucapnya, aku
terkekeh mendengar jawaban dari sosok gadis bernama Senja itu.
J
Hujan turun dengan
deras. Aku melihat keluar jendela dari kantor tempatku bekerja. Kupejamkan
mataku dan menyebutkan beberapa harapan keselamatan untuk keluarga dan istri
tercintaku yang sedang berdiam di rumah. Beberapa tahun yang lalu, hujan adalah
rezki yang selalu kutunggu. Aku selalu menyebutkan namanya dalam doaku dengan
rutin saat hujan tumpah dari ruahnya, dan Allah mengabulkan doaku.
Tidak seperti
dulu, kini aku sudah berdiri gagah tanpa mengandalkan sebuah tongkat. Kakiku
sudah dapat menopang kuat, dan dapat mengantarkan Senja kemanapu ia mau. Senja,
pengagum mendung dan penunggu hujan itu telah mengabdi untuk menjadi istriku,
seorang adik manis dibeberapa tahun yang lalu.
Drrtt…Drrtt…
[Riko, cepat ke
rumah sakit. Sepertinya Senja akan lahiran] pesan singkat dari ibu. Aku
mengambil jas di atas kursi dan langsung meluncur ke rumah sakit bersalin.
Tidak henti-hentinya aku memujiNya, meminta rahmat, dan kemudahan untuk
keluarga kecil kami.

Komentar
Posting Komentar