Dongeng Sebelum Tidur: Kematian Dabul
oleh: Ellya Syafriani
Alkisah. Diceritakan di hamparan yang begitu luas, seorang wanita jatuh di bawah benderangnya rembulan. Dengan sayapnya yang dikepakkan, ia menggendong bayi dalam dekapannya. wajahnya yang tampak sedih terlihat menitikkan air mata.
Konon katanya, sang wanita melanggar aturan keras istana. sebagai hukuman untuk seorang dewi langit sepertinya, ia diminta untuk membuang sang bayi ke bumi--- tempat hidup manusia berada. Dengan berat hati, sang Dewi yang juga merupakan ibu bayi mengikuti titah demi keselamatan diri sendiri.
Bayi perempuan dengan pipi kemerahan itu dinamakan Dabul. Dabul diletakkan di antara jerami-jerami kering di samping gubuk kumuh yang tidak lagi layak huni.
Para warga di sana menjadikan gubuk itu sebagai gudang, atau bahkan kandang kambing mereka. Dabul bukan anak biasa, sang Dewi memberikan kekuatan kepada darah dagingnya itu, yaitu menjadi penguasa malam. Saat malam tiba, segala rasa sedih, gelisah, susah tiba-tiba menghilang. seperti matahari yang tenggelam di balik lautan, Dabul adalah arti dari makna malam.
Suatu pagi, saat warga memulai hari mereka dengan pekerjaan. Seorang pria berkisar usia 40 tahunan mengambil kambing di gubuk tempat Dabul tinggal. Wajahnya sontak terkejut melihat bayi yang terbaring di antara jerami-jerami kering.
"Bu, bu. Kemari, cepat!" panggil bapak kepada istrinya. Sang istri yang masih berjalan di belakang segera mempercepat langkahnya dan melihat apa yang dihebohkan suaminya. "Apa pak?" tanya istri.
"Lihat Bu, ada bayi." Sang istri terkejut karena apa yang dilihatnya.
Setelah itu, sepasang suami istri itu pun pergi menemui orang yang berpengaruh di sana. Mendengar apa yang terjadi, seluruh warga dikumpulkan dan memberi hak kepada suami istri tersebut untuk merawat Dabul. Keduanya bahagia, kedatangan Dabul di keduanya menjadi pelengkap kebahagiaan rumah tangga mereka yang selama sepuluh tahun belum diberikan buah hati.
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Dabul tumbuh dengan kasih sayang, namun wataknya yang dingin membuat orang-orang urung mendekatinya. Dabul memiliki rambut panjang mengkilap yang menutupi wajahnya yang manis, ia juga memiliki warna kulit yang begitu pucat. Kebanyakan orang bertanya-tanya kepada kedua orangtua angkatnya itu, namun keduanya pun tidak tahu. Tidak sampai di situ, wajah pucat Dabul menghilang bersama tenggelamnya matahari. Wajahnya memancar cahaya ketika malam tiba. Hingga warga di sana beramsusi, bahwa Dabul memiliki alergi terhadap waktu siang dan pagi.
Suatu hari, seorang gadis yang sebaya dengan Dabul, sekisar dua belas tahun mengajak gadis itu bermain lompat jauh di halaman rumah bersama dengan lainnya. Namun Dabul menolak, ia tidak suka berbaur dengan orang-orang. Sang ibu meminta putrinya itu bermain dengan anak-anak lainnya, namun Dabul tetap bersikeras dengan keputusannya.
"Tidak ibu. Bermain hanya membuatku lelah," titah Dabul kepada ibunya. Ini sudah yang kesekian kalinya Dabul meninggikan suaranya, hingga sang ibu kehilangan kesabaran. "Dasar anak kambing! Padahal kau hanya duduk di rumah, apa yang membuatmu lelah, huh? Kerja tidak mau. Bermain tidak mau. Ibu yang malu dengan tetangga lainnya karena mereka mengatakan kau orang yang sombong. Mulai sekarang pergi kau ke asalmu. Pergi kau ke kandang kambing, tempat kau dilahirkan. Pantas saja ibumu membuangmu."
Menuruti perintah ibu, Dabul pergi dari rumahnya. Sekarang ia tahu siapa dirinya. Ia hanya anak pungut dari kandang kambing. "Tidak apa-apa, aku harus bertahan demi melihat malam selanjutnya," kuat Dabul dalam hati.
Dabul pergi ke lapangan luas. Ia hanya sendiri di sana. Waktu masih sore, dan beberapa jam lagi malam akan datang menjemputnya.
"Menyenangkan sekali," ucapnya kepada bulan. Dabul begitu mencintai kesunyian, ia juga mencintai bagaimana ia berdialog bersama malam. Seperti malam-malam sebelumnya, perasaan sedih yang diucapkan ibunya tadi terganti dengan kehangatan. Wajahnya yang begitu pucat juga pelan-pelan kembali normal seperti yang lainnya. "Inilah kekuatan malam," bisiknya.
Dabul memutuskan untuk bermalam di tanah lapang. Gelapnya malam, sunyinya keadaan, membuat Dabul terpeluk hangat tanpa rasa dingin. Ia tahu, dirinya tidak pernah membutuhkan orang lain.
Lama-lama kegelapan itu menghilang, terganti dengan semburat sinar pagi yang ditunggu-tunggu makhluk hidup, manusia-hewan-tumbuhan.
"Huh, sial!" keluh Dabul saat cahaya matahari menembus rambut tebalnya.
"Kamu tidur di sini? Sendirian? Semalaman? Wah hebat," tanya anak laki-laki dari belakang. Seperti Dabul, umur mereka tidak jauh berbeda.
"Kenapa bisa?" tanyanya kembali kepada Dabul. Tanpa menjawab, Dabul hanya memberi tatapan mendandakan ia tidak ingin diganggu.
"Hei, kau memiliki mata yang indah." Mendengar pujian tersebut, hati Dabul terperangah. Tidak ada yang pernah memuji kelopak matanya yang begitu bulat sempurna, dan ini pertama kalinya ada orang yang memperhatikan matanya tanpa membicarakan warna kulit atau rambutnya yang tidak diikat, hati Dabul pun tersentuh. "Dabul," ucap Dabul memperkenalkan.
"Mera," ucap lelaki itu juga menyebutkan namanya.
Lalu, keduanya pergi bersama. Beternak kambing, memetik jagung, berkejaran, dan melakukan banyak hal yang tidak pernah dilakukan oleh Dabul.
Matahari tergelincir ke Barat, dan sebentar lagi sore akan selesai. "Kita kembali ke asal masing-masing." Dabul mengangguk pelan dan membalikkan badannya.
"Hei, rumahmu dimana?" teriak Mera kepada Dabul. Dabul terus berjalan tanpa mendengar pertanyaan Mera di belakang. Geram, Mera berlari mengejar Dabul dan menarik tangan milik Dabul.
"Kau tidak berbeda. Kau sama saja," ucap Dabul dingin. Mera heran dan melepaskan cengkraman tangannya. "Maksudmu?" tanya Mera.
"Kau menyuruhku untuk kembali ke asalku. Jangan membicarakan mataku, jika kau tidak ada bedanya."
"Apa aku salah berbicara?"
"Seharusnya kau tidak pernah bicara," ucap akhir Dabul dan meneruskan jalannya. Tidak seperti tadi, Mera pun akhirnya membiarkan Dabul pergi.
Hingga malam datang menjemput Dabul, segala perasaan lelah dan marah yang dilalui bersama anak itu menghilang semua. Masih di hamparan tanah lapang, Dabul mengabiskan semalaman lagi di sana.
Searah jarum jam angka tiga, beberapa wanita turun dari langit. Tidak satu, namun lima. Dan kelima-limanya menatap Dabul dengan dalam. Ekspresi mereka tidak dapat dibaca oleh Dabul.
"Dabul. Dewi langit meminta untuk mencabut semua kekuatanmu terhadap malam. Kau tidak lagi berjumpa dengan kehangatan di dalam kegelapan. Dan, kulitmu tidak lagi akan kembali berwarna seperti lainnya. Dengan kekuatan langit, kucabut semua yang dititipkan dalam dirimu."
Begitu selesai berbicara, segala resah dalam diri Dabul membanjiri perasannya. Kepalanya tiba-tiba teringat ucapan anak kambing untuk dirinya, ucapan-ucapan buruk orang karena warna kulitnya yang pucat, ucapan buruk orang karena dirinya yang tidak pernah berbicara kepada orang lain.
"Kenapa kalian ambil kenikmatan ku satu-satunya? Kenapa kalian mengganggu malamku yang begitu berharga?" tanya Dabul menundukkan kepala.
"Karena kau terlahir dengan kutukan. Tidak ada yang pernah menginginkan kelahiranmu." Para wanita-wanita itu pun kembali ke atas langit meninggalkan Dabul yang menunduk dengan perasaan bencinya.
Warna kulitnya kembali lagi memucat seperti mayat. Kini ia tidak lagi membenci pagi atau siang atau sore, namun juga pada malam hari. Atau bahkan, Dabul membenci hari-harinya.
Malam itu, Dabul tidak tertidur. Kepalanya terus disinggahi beberapa ucapan orang-orang yang telah berlalu. Dabul, anak yang tumbuh tanpa masalah itu menyakiti dirinya dengan memukul kepalanya dengan kedua tangan. Hingga beberapa menit, jam, dan matahari terlihat terbit. Dabul belum juga berhenti memukuli kepalanya.
"Hei," panggil seorang laki-laki yang tidak lain adalah Mera. Dabul menghentikan siksaan singkatnya itu, dan melihat siapa yang datang. Kondisi Dabul benar-benar kacau.
"Kalau kau mau mati, tangan kosongmu tidak bisa untuk membunuh." Mera memberikan batu di yang lumayan berukuran di sampingnya. Tanpa berpikir panjang, Dabul langsung mengambil batu tersebut dan memukulkan di kepala Mera.
Tidak lama, darah segar mengalir dari kepala Mera.
Setelah mata milik Mera terpejam, Dabul melakukan hal yang serupa di kepalanya. Ia memukulinya dengan kuat, tidak seperti sebelumnya dengan kedua tangannya tadi.
"Kembalikan malamku," lirihnya di akhir hidupnya.












Komentar
Posting Komentar