Cermin: Maaf
Aku
bertanya mengapa semua ini menjadi berat.
Namun
aku enggan menganggapnya sebagai beban
Hingga
aku tahu inilah yang dinamakan dengan
rindu
MAAF
Sedikit lagi, semuanya
akan beres. Hari ini adalah jadwal ku membersihkan kamar yang lumayan
berantakan, dan kebanyakan berisi dengan
laporan kehidupan, ah sial, makalah
kuliah yang tidak kunjung selesai maksudnya.
Bugh! Tiba-tiba
bingkai foto terjatuh mengenai kepalaku. Bingkai manis berwarna hitam volkadot
marun dan gambar sepasang kekasih yang begitu saling menyayangi. Ya, foto itu
adalah aku dan Bagas–mantanku saat SMA dulu.
Tiga tahun yang
lalu…
Aku mencari sosok
Bagas yang dari tadi pagi belum kujumpa, padahal aku sudah mencari ke kelas dan
seantero sekolah. Tapi, Bagas tidak ada. Aku telvon dia tidak mengangkat, dan
teman-temannya tidak ada yang tahu keberadaannya. Apa Bagas lupa? Hari ini
adalah hari istimewa bagiku.
Aku merasa kesal
dengannya, Bagas pergi begitu saja tanpa pesan. Tidak untuk hari yang telah
kutunggu kini, namun untuk keesokan harinya Bagas juga tidak pernah datang
menemuiku. Aku membiasakan diri tanpanya yang sudah berminggu-minggu absen dari
sekolah, aku membiasakan diri tanpanya yang tidak mengirim pesan singkat
untukku walaupun isinya hanya sekedar sapaan selamat pagi kebo!
Hingga hari itu,
16 Maret 2011. Pentas seni sekolah Bagas datang menemuiku, dengan tubuhnya yang
semerawutan dan kurus. Bagas terlihat kacau, ingin rasanya aku bertanya
mengapa, namun ternyata rasa gengsiku lebih besar dari rasa sayang.
“Sania, aku minta
maaf baru datang sekarang. Oh ya, happy birthday,” ucapnya sambil
memberikan boneka Doraemon ukuran besar. Aku bergeming, masih dengan
keputusanku untuk tidak berbicara dengannya.
“Aku diterima di Universitas Tokyo. Maaf meninggalkanmu
San, berjanjilah untuk menungguku,” ucapnya memohon. Segera saja aku menampar
pipinya yang tidak berdosa.
“Tidak datang
tanpa alasan, tiba-tiba kamu mau pergi begitu saja? Kamu jahat Bagas,” aku
berlari meninggalkannya sendirian di kelas. Bagas begitu jahat.
Hingga enam bulan
aku berpisah dengannya, baru kuketahui penyakit yang menimpa Bagas selama ini. Penyakit
yang membunuh Bagas bernama leukemia itu melenyapkan dirinya dari muka bumi.
Entah mengapa, aku tidak pernah menyadari keadaan Bagas. Tokyo? Haha, Bagas
hanya menjalani pengobatan di sana, dan sekarang aku merindukan semua cerita
singkat ini. Maaf.
Komentar
Posting Komentar