Dilema Mahasiswa Semester Dua Digit, Bayar Kopi 30 Ribu Untuk Sepuluh Halaman Skripsi atau Makan Tiga Kali Sehari?
Ada pertanyaan yang tingkat kerumitannya melampaui ‘kapan wisuda?’ oleh mahasiswa akhir. Yaitu, ‘hari ini mau produktif skripsian di mana?
Pertanyaan pertama bisa dijawab senyum pasrah, canggung, sambil geleng-geleng kepala. Sementara pertanyaan kedua bisa jadi yang akan menentukan nasib satu bab, kewarasan, dan sisa uang ke 24 jam ke depan.
Di mana aku bisa skripsian dengan tenang?
Tentu skripsian di kos gak masuk opsi. Pertama, indekos yang berbayar Rp 300 ribu rupiah ini tidak menyediakan meja belajar. Bisa membuat pahaku kepanasan karena harus terus memangku laptop. Tentu juga buat aku jadi keenakan, karena jadinya rebahan dan jadi scroll Instagram sambil mengecek story orang.
Jadi, pilihan skripsian di kos ga pernah kujadikan pertimbangan. Apalagi di sini pengap, bisa matang sempurna aku dibuatnya.
Kalau di Perpustakaan Terbatas Jam
Sebenarnya belajar di perpustakaan itu cara mahasiswa bisa berjimat. Hemat duit, menyenangkan karena banyak daftar buku, dan suasana tenang mendukung membaca jurnal dengan fokus.
Tapi jam kegiatan perpustakaan di kampus bikin sebel-sebel manja. Bayangin aja, jam 8 pagi buka, jam 12 tutup istirahat. Buka kembali jam 2 dan jam 4 sore sudah ditutup. Kalau tiba-tiba ilham niat membaca jurnal di pukul 5 sore bagaimana?
Belum lagi karena saking heningnya pas mau batuk kaya mau lempar bom. Ngeri dan menakutkan. Apalagi pas ga sengaja jatuhin buku, rasa menambah satu dosa besar.
Sementara di Kafe, Bisa Sepuluh Halaman Skripsi
Berbanding kalau di kafe, ga ada jam operasional yang tiba-tiba tutup di tengah mood. Suasana yang santai, ga boring, dan bau-bau kopi yang menambah semangat belajar. Apalagi ada percakapan-percakapan kecil dan gurauan dari meja sebelah. Bagiku itu menambah suasana lebih hidup lagi.
Kalau di kafe bisa sepuluh halaman. Bayangin sekali ke kafe besoknya sudah bimbingan. Gils gak?
Ya tapi ga selalu, kadang-kadang setor mukak untuk bengong doang. Setidaknya udah bisa buat instastory lah, pakai #productif_today.
Tapi cukup boncos juga ya. Kopi paling dibandrol harga Rp 30 ribu, sebenarnya untuk orang mendang-mending kaya aku jumlah tersebut bisa untuk satu hari makan. Susah ya jadi pejuang generasi performatif.
Walaupun Pada Akhirnya Ini Bukan Tentang Dua Tempat Itu
Di kos, skripsi menjadi dekorasi dari tab Chrome. Kalau perpustakaan, niat belajar bisa bubar gara-gara kantuk yang ga tertahan. Di kafe, skripsi jalan, eh tapi dompet ikut jalan ke jurang.
Ada sekelumit kesadaran, bahwa ini bukan perihal tempat yang salah. Mungkin bisa saja tekadku yang nampak receh.
Perpustakaan atau kafe nyatanya hanyalah panggung tempat aku berteater dengan tugas akhir. Bedanya perpustakaan lebih menawarkan suasana yang senyap. Kalau kafe ya panggung markas yang pura-pura sibuk. Menatap kedap-kedip kursor di halaman yang kosong sambil meringis kapan ritual harian ini akan selesai.
Ini tidak meluluk perdebatan mana tempat yang lebih nyaman di antara dua tempat tersebut. Namun bagaimana perilaku kita saat menghadapi ricuhnya skripsi. Apalagi semester sebelas, sudah dua digit.
Ya benar, skripsi ga hanya soal tempat. Tapi jadi ruang gimana tetap waras di tengah deadline yang mengejar.

Komentar
Posting Komentar